Minggu, 18 Desember 2011

Strategi dan Intervensi Konseling

A. Konseling sebagai profesi bantuan
Konseling adalah bantuan. Profesi bantuan ini terdiri atas profesional. Tiap-tiap profesional menyesuaikan kebutuhan khusus pribadi atau masyarakat. Beberapa profesi bantuan diidentifikasikan sebagai profesional bantuan, seperti psikieater, psikolog, konselor profesional, ahli terapi keluarga dan perkawinan, serta pekerja sosial.
Proses bantuan ini mempunyai beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah kondisi-kondisi yangf mendasari bantuan. Dimensi kedua adalah prakondisi yang mengarahkan seseorang pribadi (klien) mencari bantuan dan pribadi yang lain (konselor) memberikan bantuan. Dimensi ketiga adalah hasil dari interaksi diantara dua orang pribadi.
Karaketristik-karakteristik klien meliputi :
1. Ketrampilan-ketrampilan pengushaan.
2. Kemampuan-kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Konsep diri
4. Temperamen.
5. Pengalaman-pengalaman interpersonal.
Orang yang memberikan bantuan meliputi :
1. Psikiater
2. Psikolog
3. Pekerja sosial
4. Ulama
5. Pendeta nasrani
6. Pendeta yahudi
Konselor di sekolah meliputi :
1. Sekolah dasar
2. Sekolah menengah
3. Sekolah atas
Konselor sekolah dasar banyak memfokuskan pada kegiatan kerjasama dengan staf pengajar untuk menciptakan lingkungan psikologis yang sehat utnk anak-anak di sekolah. Konselor menengah banyak menghabsikan waktunya dengan anak-anak, baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan konselor sekolah atas banyak memfokuskan pada perencanaan karier dan studi di perguruan tinggi, maslah hubungan pribadi, masalah keluarga, dan masalah identitas pribadi.
Konseling yang dilakukan konselor di perguruan tinggi antara lain :
1. Konseling karier
2. Konseling penyesuaian pribadi
3. Konseling krisis
4. Konseling penyalahgunaan obat
Konseling dalam setting masyarakat biasanya dilakukan oleh pekerja sosial atau konselor kesehatan mental. Masalah yang ditangani sebagian besar perkenaan dengan kesehatan mental. Klien yang ditangani meliputi :
1. Anak-anak
2. Remaja
3. Orang tua
4. Pasangan suami istri
5. Keluarga
Konseling dalam setting agama, biasanya dilakukan oleh konselor agama. Mereka berkeyakinan, bahwa masalah-masalah manusia arus ditelaah dalam konteks keyakinan dan nilai agama.
Konseling profesional memiliki empat unsur, yaitu :
1. Kualitas-kualitas pribadi konselor
2. Ketrampilan-ketrampilan antar pribadi yang dimiliki konselor
3. Ketrampilan-ketrampilan membedakan dan konseptualisasiyang dimiliki konselor
4. Ketrampilan-ketrampilan intervensi yang dimiliki konselor
Konselor profesional itu biasanya dididik oleh program-program pendidikan tertinggi seingkat master. Mereka melakukan program-program pelatihan dan diperkenalkan dengan berbagai profesi bantuan, setting bantuan, populasi, dan etika profesional.

B. Hubungan Bantuan ( Konseling)
Keberhasilan dalam konseling banyak ditentukan oleh kualitas hubungan. Rogers mengatakan, bahwa dalam hubungan bantuan terdapat kondisi-kondisi penting untuk terjadinya perubahan kepribadian yang positif. Kondisi-kondisi tersebut mengarah pada karaktersitik hubungan antar pribadi yang konstruktif. Kondisi-kondisi tersebut yaitu :
1. Empeti Yang tepat
2. Pengahrgaan positif tanpa syarat
3. Keaslian
Pengungkapan diri mengenai perasaan, ide, pemikiran, dan pengalaman konselor agar klien memahami bahwa konselor juga manusia, tidak saja berperan sebagai konselor. Pengungkapan diri ini hendaknya dilakukan secara tepat. Terdapat beberapa jenis pengkupan diri, yaitu :
1. Pengungkapan diri tentang masalah-masalah konselor diri.
2. Pengungkapan diri tentang fakta-fakta peran konselor
3. Pengungkapan diri tentang reaksi-reaksi diri terhadap klien.
4. Pengungkapan diri tentanf reaksi-reaksi konselor terhadap hubungan antara konselor dan klien.
Hendaknya, konselor menjadi pribadi yang intensional atau pribadi yang berfungsi penuh, yakni mempunyai kemampuan, mampu mengahsilkan alternatif perilaku-perilaku bantuan dalam berbagai situasi, mempunyai beberapa alternatif cara bantuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien pada saat sekarang, dan mampu mengembangkan tujuan-tujuan konseling.

C. Attending terhadap Klien
Konselor harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlakukan dalam proses konseling. Salah satu ketrampilan itu adalah attending. Attending terhadap klien adalah kemampuan mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian terhadap klien. Ketrampilan attending ini berupa perilaku verbal maupun nonverbal yang tepat secara budaya yang berfungsi melibatkan klien dalam proses konseling.
Perhatian tiu dikomunikasikan terutama melalui tiga saluran, yaitu :
1. Ekspresi muka
2. Posisi dan gerakan tubuh
3. Responsi verbal
Cara-cara komunikasi tersebut merupakan tanda untuk klien mengenai tingkat penerimaan, persetujuan, penolakan, atau pengabaian yang dihubungkan dengan perilaku penguatan .

Bahasa badan muka ini meliputi :
1) Kontak mata
2) Anggukan kepala
3) Animasi.
Kontak mata yang baik lebih memudahkan komunikasi antara klien dan konselor. Anggukan kepala menunjukan kepada klien bahwa konselor sedang mendengarkan dan memperhatikan. Animasi adalah manipulasi otot wajah untuk menghasilkan senyum, kerutan dahi, pengabaian dan sebagainya. Animasi dalam ekspresi muka ini memberikan kesan kepada klien bahwa konselor itu merespons terhadap komunikasi yang berjalan.

D. Pemahaman Pola-Pola Komunikasi
Ada beberapa pola komunikasi dalam proses konseling. Sebagian mengambil pada komunikasi bentuk ritual, sementara yang lain mengambil pola komunikasi responsif atau interaktif. Bagi konselor pemula, kondisi diam dapat menjadikan ketakutan. Konselor bertanggung jawab agar klien mau berbicara. Konselor dapat menggunakan diam itu sebagai teknik konseling dan sebagai cara untuk merespons terhadap klien. Dalam diam inilah klien mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam konseling ke dalam sistem yang ada pada dirinya.

E. Pengelolaan Kegiatan Konseling
Wawancara pertama dengan klien mempunyai dinamika khusus. Wawancara pertama ini merupakan awal dari potensi hubungan yang signifikan. Dalam wawancara pertama ini harapan, kekhawatiran dan keberatan, kesadaran dan ketidaksadaran semunya berpengaruh pada kegiatan konseling. Menghadapi kondisi seperti ini, konselor memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu konselor bekerja dengan dinamika hubungan yang ada atau menciptakan kegiatan awal ini dengan wawancara yang menghasilkan dan mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang klien. Jika konselor memfokuskan pada dinamika antarpribadai pada wawancara pertama, maka dalam wawancara kedua dan ketiga, konselor harus mengumpulkan informasi. Apabila konselor menggunakan kegiatan wawancara awal ini untuk menghasilkan informasi, maka selanjutnya harus memulai untuk memahami dinamika hubungan.

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan konseling awal ini, yaitu :
1. Mengurangi kecemasan klien
2. Menahan diri untuk tidak berbicara terlalu banyak
3. Mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan klien dan berusaha utuk menata kembali kata-kata yang dijelaskan oleh klien
4. Menyadari bahwa yang dipilih klien itu merupakan topik utama untuk saat ini.
Dalam membuka wawancara, konselor secara singkat memperkenalkan diri disertai dengan senyum dan mempersilahka klien untuk mengambil tempat duduk. Setelah memperkenalkan diri, konselor memberikan kesempatan pada klien untuk berbicara atau koselor memberikan informasi kepada klien tentang sruktur konseling yang meliputi sifat, batas-batas, peran-peran, dan tujuan-tujuan dalam hubungan konseling.
Konselor pemula sering tidak yakin kapan mengakhiri wawancara, mereka merasa siap untuk mengakhiriranpa memikirkan apakah klien sudah siap atau belum. Benjamin mengidentifikasikan dua faktor dasar untuk menutup proses wawancara, yaitu :
1. Konselor dan klien menyadari bahwa wawancara sudah saatnya ditutup.
2. Penghentian wawancara itu dikaitkan dengan kesiapan untuk melaksanakannya, selanjutnya tidak ada materi baru yang dikemukakan atau didiskusikan pada fase wawancara. Apabila klien tiba-tiba mengemukakan topik baru pada saat wawancara berakhir, maka konselor lebih baik menganjurkan pembahasan materi baru itu dilakukan pada wawancara berikutnya manakala mempunyai waktu banyak.
Hubungan konseler itu berakhir apabiala :
1. Kontrak konseling berakhir
2. Tujuan klien tercapai
3. Hubungan konseling tampak tidak bermanfaat
4. Kondisi-kondisi kontekstual berubah, contohnya lokasi klien atau konselor berubah.

F. Responding terhadap Isi Kognitif
Respon konselor terhadap klien dapat berupa respons verbal dan nonverbal. Oleh sebab itu konselor harus mampu merespons secara tepat isi kognitif yang dikemukakan oleh klien. Tugas konselor adalah mngidentifikasi secara tepat jenis-jenis isi yang dikemukakan oleh klien dan mengidentifikasi alternatif-alternatif respons yang dapat dilakukan.
Jenis respons yang dapat digunakan dari stimulus yang menghasilkan isi kognitif adalah :
1. Diam
2. Meminimalkan aktifitas verbal seperti kata-kata oh, mmm, ya, dan sebagainya
3. Menyatakan kembali seluruh atau sebagian apa yang dikomunikasikan klien
4. Melakukan probing, yaitu bertanya yang memerlukan jawaban lebih dari satu kata jawaban dari klien.

G. Responding terhadap Isi Afektif
Klien menggunakan seluruh car-cara verbal dan nonverbal untuk menyatakan masalh pada konselor. Emosi-emosi yang menyertai pertanyaannya menghiasi dan menggubah pesan. Isyarat-isyarat ini tidak selalu mudah dibaca.
Komunikasi-komunikasi yang mencerminkan perasaaan-perasaan itu dapat digambarkan sebagai afektif. Banyak pesan yang berisi kognitif dan afektirf. Apabila itu terjadai, pesan afektif itu mungkin tidak tampak dalm kata-kata klien, tetapi dapat dinyatakan melalui cara-cara nonverbal, seperti suara yang memuncak, kecepatan berbicara, posisi-posisi tubuh , dan bahasa badan.
Perasaan itu dapat kita idrntifikasi dalam empat bidang :
1. Kasih sayang
2. Kemarahan
3. Kekhawatiran
4. Kesedihan.
Perasaan-perasaan kasih sayang mencerminkan positif atau perasaan-perasaan baik tentang diri seseorang atau orang lain, dan menunjukkan perasaan-persaan positif tentang hubungan-hubungan antar pribadi. Perasaan positif ini dapat diklafikasikan kedalam lima bidang:
1. Kesenangan
2. Kemampuan
3. Kecintaan
4. Kebahagiaan
5. Harapan
Sedangkan kemarahan sering mencerminkan perasaan-perasan megatif tentang diri seseorang atau orang lain. Kemarahan dapat diklafikasikan kedalam empat kategori umum, yaitu :
1. Penyerangan
2. Keseraman
3. Pertahanan
4. Perselisihan

H. Membedakan Pesan Kognitif dan Afektif
Terdapat beberapa respons konselor yang bermanfaat untuk membedakan pesan kognitif atau afektif klien. Respons-respons tersebut yaitu :
1. Penekanan
2. Respons bahwa klien itu berpotensial
3. Konfrontasi
Respons konselor terhadap isi afektif itu penting, yaitu sebagai alat untuk mengurangi kecemasan klien yang selamaini terpelihara. Respons konselor terhadap isi kognitif membantu klien dalam mengembangkan dan mengekspresikan proses-proses pemikiran dalam menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.
I. Konseptualisasi (Perumusan) Masalah dan Penyusunan tujuan
Konseptualisasinmasalah ini meliputi :
1. Mengenal kebutuhan klien
2. Memahami kebutuhan klien
3. Memenuhi kebutuhan klien

Jourard mengonseptualisasikan kebutuhan ini dengan cara yang berguna untuk konseling, yaitu :
1. Kebutuhan untuk kelangsungan hidup
2. Kebutuhan fisik
3. Kebutuhan cinta dan seks
4. Kebutuhan status, sukses, dan harga diri
5. Kebutuhan kesehatan mental dan fisik
6. kebutuhan bebas
7. kebutuhan menantang
8. kebutuhan kejelasan kognitif.

Proses konseling melibatkan dua jenis tujuan yaitu : tujuan proses dan tujuan hasil akhir. Tujuan itu dikaitkan dengan menciptakan suasana-suasana yang penting untuk perubahan klien, seperti menciptakan hubungan baik.
Ada tiga unsur tujuan hasil akhir yang baik, yaitu :
1. perilaku yang diubah
2. kondisi yang mendasari perubahan
3. tingkat atau jumlah perubahan
J. Penyeleksian Strategi dan Intervensi
Dalam proses konseling, konselor harus mampu menilai perilaku dan pengaruhnya terhadap klien. Konselor harus mampu menciptakan suasana hubungan yang memudahkan.strategi-strategi ini merupakan rencana-rencana kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan khusus konseling.
Konselor yang berpengalaman sering mendiskusikan penggunaan strategi ini bersama klien dengan maksud untuk memunculkan reaksi klien serta mengundang kerja sama klien dalam intervensi. Dalam mengevaluasi strategi, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1. untuk apa evaluasi
2. siapa yang mengevaluasi
3. bagaimana cara mengevaluasi.
K. Penggunaan Intervensi-intervensi Konseling
Strategi-strategi atau intervensi-intervensi yang akan dijelaskan, yaitu :
1. strategi model sosial
2. strategi bermain peran dan latihan
3. strategi perubahan kognitif
4. strategi pengelolaan diri
strategi bermain peran dan latihan dapat meningkatkan perubahan perilaku melalui simulasi atau dalam pembentukan respon-respon yang diinginkan. Unsur-unsur umum dalam aplikasi strategi bermain peran dan latihan, yaitu :
1. pembentukan kembali diri seseorang, orang lain, suatu peristiwa, atau sejumlah respon oleh klien.
2. Menggunakan saat sekarang atau disini dan sekarang untuk mengadakan pembentukan kembali.
3. Umpan balik untuk klien dari konselor atau seorang asisten.
Karateristik utama strategi pengelolaan diri adalah bahwa klien mengatur strategi dan mengarahkan upaya-upaya perubahan dengan bantuan yang sedikit dari konselor. Strategi pengelolaan diri itu sangat berguna dalam kaitannya dengan sejumlah masalah klien. Tiga dari strategi pengelolaan diri yang paling berguna antara lain :
1. Pantau diri
2. Ganjar diri
3. Kontrak diri
Penelitian menunjukkan, bahwa akibat-akibat yag dihasilkan oleh pantau diri dapat lebih meningkatkan dan lebih mantap apabila pantau diri disertai dengan strategi terapeutik lain, seperti ganjar diri, hukum diri, dan kontrak diri.
L. Penerimaan dan Penggunaan Supervisi
Untuk memahami supervisi, kita perlu mengetahui apa yang terjadi dalam supervisi, siapa yang terjadi dalam supervisi, siapa yang memberikan supervisi, dan dalam konteks apa supervisi itu terjadi.
Yang menjadi fokus supervisi, yaitu :
1. Ketrampilan-ketrampilan proses konseling
2. Ketrampilan-ketrampilan kosnseptualisasi (perumusan) masalah
3. Ketrampilan-ketrampilan personalisasi
4. Ketrampilan-ketrampilan profesional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar