Minggu, 24 Juli 2011

PERKEMBANGAN SOSIAL

1. Pengetian perkembangan hubungan sosial
Beberapa teoti tentang perkembangan manusia telah menggungkapkan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini factor intelektual dan emosional menggambil peran penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insane yang secara aktif melakukan proses sosialiasasi.
Manusia tumbung dan berkembang didalam lingkungan. Linkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pambentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis.
Kebutuhan bergaul dan hubungan dengan orang lain ini mulai dirasakan sejak anak berusia enam bulan, disaat anak itu telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anakmulai mengenal dan membedakan arti senyum dan perilaku social yang lain, seperti marah (tidak suka mendengar suara keras) dan kasih sayang. Akhirnya setiap oramg menyadari bahwa manusia iru saling membutuhkan.
Dengan demikian, jelaslah bahwa hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas sampai pada tungkat yang luas dan kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain untuk kebutuhan pribadinya, tetapi untuk berpartisipasi dan berkontribusi mzemajukan kehidupan bermasyarakatnya.

2. Karakteristik perkembangan sosial remaja
Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi social dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya didalam keluarganya.
Dengan demikian, remaja memulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena disampig haus memperhatikan norma pergaulan sesame remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.
Kehidupan sosial dalam jenjang usia remaja ditandai oleh menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Mereka dapat mengalami sikap hubungan sosial yang bersifat tertutup ataupun terbuka seiring dengan masalah pribadi yang dialaminya. Keadaan ini oleh Erik Erickson (dalam Lefton, 1982:281) dinyatakan sebagai krisis identitas diri. Prosses pembentukan identitas diri dan konsep diri merupakan sesuatu yang kompleks. Konsep diri ini tidak hanya terbentuk dari bagaimana remaja percaya tentang keberadaan dirinya, tetapi juga dari bagaimana orang lain menilai tentang keberadaan dirinya.
dewasa melalui 8 tahapan. Perkembangan remaja berada dalam tahap keenam dan ketujuh, yitu masa menemukan jati diri dan memilih kawan akrab. Sering anak menemukan jati dirinya berdasarkan situasi kehidupan yang mereka alami. Banyak diantara mereka yang amat percaya pada kelompoknya dalam menemukan jati dirinya. Dalam hal ini, Erickson berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh pengaruh sosiokulktural. Berbeda dengan pandangan Sigmud Freud bahwa kehidupan social remaja (pergaulan sesame remaja terutama dengan lawan jenis) didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksualnya.
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelopmpok kecil maupun kelompok besar. Dalam menentukan kelompok yang diikuti,didasari oleh berbagai pertimbangan, seperti moral, sosial ekonomi, minat dan kesamaan bakat, dan kemampuan. Baik didalam kelompok kecil maupun dikelompok besar, masalah yang umum dihadapi oleh remaja dan paling rumit adalah factor penyesuaian diri. Didalam kelompok besar terjadi persaingan yang berat, masing-masing individu bersaing untuk tampil menonjol, memperlihatkan “aku”nya. Oleh karena itu, sering terjadi perpecahan dalam kelompok tersebut yang disebabkan oleh menonjolnya kepentingan pribadi setiap orang. Tetapi sebaliknya, didalam kelompok itu terbentuk suatu persatuan yang kokoh, yang diikat oleh nora kelompok yang telah disepakati.
Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah tiap-tiap anggota belajar erorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi peraturan kelompok. Ada kalanya, dalam hal-hal tertentu tindakan kelompok itu kurang mengindahkan nilai dan norma social, yang berlaku umum di masyarrakat karena lebih memperhatikan adalah keutuhan kelompoknya. Selain itu, untuk mempertahankan dam melawan serangan kelompok lain, mereka mengutamakan rasa solidaritas serta semangat persatuan dan keutuhan kelompoknya tanpa memedulikan objektivitas kebenaran.
Penyesuaian diri didalam kelompok kecil, kelompok yang terdiri dari pasangan remaja berbeda jenis sekalipun, tetap menjadi permasalahan yang cukup berat. Di dalam proses penyesuaian diri, kemampuan intelektual dan emosional mempunyai pengaruh yang kuat. Saling pengertian akan kekurangan masing-masing dan upaya menahan sikap menonjolkan diri atau tindakan dominasi terhadap pasangannya, diperlukan tindakan intelektual yang tepat dan kemampuan menyeimbangkan pengendalian emosional. Dalam hal hubungan sosial yang lebih khusus, yang mengarah ke pemilihan pasangan hidup, pertimbangan faktor agama dan suku sering menjadi masalah yang amat rumit. Pertimbangan masalah agama dan suku ini bukan saja menjadi kepentingan masing-masing individu yang bersangkutan, tetapi dapat menyangkut kepentingan keluarga dan kelompok yang lebih besar (sesame agama atau sesame suku).

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan sosial
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : keluarga, kematangan anak, kematangan anak, status sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan intelegensi.

a) Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tatacara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak.
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.

b) Kematangan anak
Proses sosialisasi tentu sja memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk memberi dan menerima pandangan atau pendapat oranvg lain diperlukan kematangan intelektual dan emosional. Selain itu, kematangan mental dan kemampuan berbahasa ikut pula menentukan keberhasilan seseorang dalam berhubungan sosial.

c) Status sosial ekonomi keluarga
Kehidupan sosial dipengaruhi pula oleh kondisi atau ststus sosial ekonomi keluarga. Masyarakat akan memendang sesorsng anak dalam konteksnya yamg utuh dengan keluarga amak itu. Dari pihak anak itu sendiri, prilkunya akan memperlihatkan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluaarganya. Hal itu mengakibatkan anak akan menempatkan dirinya dalam pergaulan social yang tidak tepat. Kondisi demikian akan berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain, anak-anak dari keluarga kaya akan membentuk kelompok elit dengan nilai dan norma sendiri.

d) Pendidikan
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoprasian ilmu yang normatif, pendidikan akan member warna terhadap kehidupan social anak di masa yang akan datang. Pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk kepribadian anak agar mereka memiliki tanggungjawab sosial dalam kehidupan bermasyaarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, siswa bulkan saja dikenalkan dan ditanamkan nilai dan norma keluarga dan masyarakat, tetapi juga nilai dan norma kehidupan bangsa dan negara.

e) Kapasitas mental : emosi dan intelegensi
Kapasitas emosi dan kemampuaan berpikir memengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa dan menyesuaikan diri terhadap kehidupan dimasyarakat. Perkembangan emosi dan intelegensi berpengaruh terhadap peerkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi dan memiliki emosi yang stsbil akan mampu memecahkan berbagai masalah hidupnya di masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, pengendalian emosioal secara seimbang sangat menentukan keberasilan dalam perkambangan sosial anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

4. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran tersebut terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain, bahkan sering telihat usaha seseorsng untuk menyembunyikan dan merahasiakannya. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi lingkungan sering tidak sepenuhnya diterima, karena lingkungan tidak sejalan dengan konsep dirinya yang tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk tingkah laku sehari-hari.
Pemikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritisnya situasi dari orang lain,termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikkuti atau diharapkannya. Sikap kritis ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga ia merasa bahwa tatacara, adat istiadat yang berlaku dilingkungan keluarga bertantangan dengan sikap dengan sikap kritis yang tampak pada pelakunya.
Pengaruh egosentris masih sering terlihat pada pemikiran remaja, karena hal berikut :
a. Cita-cita dan idealism yang baik, terlalu menitikberatkan pemikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan kegagalannya dalam menyelesaikan persoalan.
b. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri belum bisertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain dari pada tujuan perhatian sendiri. Pandangan dan penilaian dirisendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Pencerminan sifat egois sering dapat menyebabkan “kekakuan” para remaja dalam cara berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan mengganggu dirinya dalam bergaul, karena menduga bahwa orang lain sepikiran dan ikut tidak puas dengan penampilan dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan seperti selalu diamati orang lain, malu dan membatasi gerak geriknya. Akibatnya, tingkah lakunya menjadi canggung.
Proses penyesuaian diri yang dilandasi sifat egonya dapat menimbulkan reaksi lain, yaitu melebih-lebihkan diri dalam penilaian diri. Mereka merasa dirinya “ampuh” atau “hebat” sehingga berani manantang da mendeburkan diri dalam aktivitas yamg acapkali dipikirkan atau direncanakan. Aktifitas yang dilakukan pada umumnya tergolong aktivitas yang membahayakan.
Melalui banyak pengalaman damn penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, sifat egonya semakin berkurang. Pada akhir masa remaja, pengaruh egosentrisitas sudah semakin kecil, sehingga ia dapat berhubungan ddengan orang lain tanpa harus meremehkan pendapat dan pandangan orang lain.

5. Mengembangkan Keterampilan Sosial pada Remaja
Menurut hasil study Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut keterampilan social(social skills), yaitu keluarga, lingkungan, kepribadian, rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis, pendidikan/sekolah, persahabatan dan solidaritas kelompok, dan lapangan kerja.

a. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan, kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluaraga yang tiddak harmonis sehingga tidak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat terlihar dari :
1) Kurang adanya saling pengertian
2) Kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orang tua dan saudara
3) Kurang berkomunikasi secara sehat
4) Kurang mampu mandiri
5) Kurang mampu mamberi dan menerima sesama saudara
6) Kurang mampu berkerjasama
7) Kurang mampu mengadakan hubungan yang baik

b. Lingkungan
Sejak dini, anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga), lingkungan keluarga (keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat luas. Dengan pengenalan lingkungan sejak dini, anak sudah mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas.

c. Kepribadian
Secara umum, penampilan sering diindentikkan dengan menifestasi dari kepribadian seseorang, padahal sebenarnya tidak demikian karena yang tampil tidak selalu menggambarkan kepribadian yang sebenarnya. Hal ini amatlah penting bagi remaja untuk menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehimgga mengucilkan orang yang memiliki penampilan tidak menarik. Disinilah pentingnya orang tua memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik, seperti materi dan penampilan.

d. Rekreasi
Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebaliknya dapat terpengaruhi. Dengan rrekreasi, seseorang akan mendapat kesegaran fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capek, bosan, monoton, serta mendapatkan semangat baru.

e. Pergaulan dengan lawwan jenis
Untuk menjalankan peran menurut jenis kelamin, anak dan remaja semestinya tidak dibatasi pergaulannya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akanmemudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sngat penting dalam persiapan berkeluarga maupun berkeluarga.

f. Pendidikan
Pada dasarnya, sekolah mengajarkan berbagai keterampilan pada anak. Salah satu kterampilan tersebut adalah keterampilan social yang dikaitkkan dengan cara-cara belajar yang efesien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Dalam hai ini peran orang tua adalah menjaga agar keterampilan-keterampilan tersebut tetap dimiliki oleh anak dan dikembangkan terus menerus sesuai tahap perkembangannya.

g. Persahabatan dan solidaritas kelompok
Pada masa remaja, peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Sering remaja bahkan lebih mementingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarganya. Hal tersebut merupakan hal yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Dalam hal in orang tua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar rremaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.

h. Lapangan kerja
Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan social untuk memilih lapangan kerja sebenarnya sudah disispkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran disekolah, mereka sudah mengenel berbagai lapangan pekerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SLTA, mereka dapat bimbingan karier untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan kerj dan keterampilan-keterampilan social yang dibutuhkan, remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi akan siap untuk bekerja.

i. Meningkatkan kemampuan penyesuaian diri
Untuk menumbuhkan kemampuan penyesuaian diri, sejak anak awal diajarkan untuk lenih memahami dirinya sendiri agar ia mampu mengengdalikan dirinya sehingga dapat vereaksi secara wajar dan normative. Untuk itu, tugas orang tua atau pendidik adalah membekali diri anak dengan membiasakan untuk menerima dirinya, menerima orang lain, tahu dan mau mengakui kesalahannya, dan sebagainya. Dengan cara ini, remaja tidak akan terkejut menerima kritik dari orang lain, mudah membaur dalam kelompok damn memiliki solidaritas yang tinggi sehingga mudah diterima oleh orang lain atau kelompok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar