Jumat, 22 Juli 2011

IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA DALAM KEHIDUPAN MODERN

IMAN
1. Pengertian Iman
Menurut bahasa iman berarti membenarkan. Sedangkan menurut syara’ berarti membenarkan dengan hati, dalam arti menerima dan tunduk kepada hal-hal yang diketahui berasal dari Nabi Muhammad. Selain itu iman juga berarti percaya dengan sepenuh hati tanpa ada sedikitpun keraguan didalamnya sehingga tercermin dalam pandangan hidup, sikap, dan tingkah laku. Dengan demikian iman kepada Allah berarti percaya bahwa Allah satu-satunya dzat yang menciptakan, memelihara, menguasai, dan mengatur alam semesta. Iman kepada keesaan Allah juga berarti yakin bahwa hanya kepada Allah-lah manusia harus bertuhan, beribadah memohon pertolongan, tunduk, patuh, dan merendahkan diri. Selain itu iman kepada keesaan Allah juga berarti mempercatai bahwa Allah-lah yang memiliki segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari sifat tercela atau dari segala kekurangan.
Iman tidak cukup disimpan dalam hati. Iman harus dilahirkan dalam bentuk perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal sholeh atau perilaku yang baik. Selain itu, pengartian tersebut jugs membawa makna bahwa iman tidak sekedar beriman kepada apa yang disebutkan didalam “rukun iman” saja, yaitu iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadla dan qodar. Tetapi lebih dari itu, cakupan iman meliputi pengimanan terhadap segala hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad selain rukun iman tersebut. Misalnya, iman terhadap kewajiban sholat, zakat, puasa, dan juga tentang halal haramnya sesuatu.

2. Mengemukakan argument bantahan tentang tidak benarnya orang beriman.
Orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.adalah termasuk orang kafir. Menurut Ibnu Jarir, ketertutupan hati orang kafir itu disebabkan karena kesombongan dan penentangannya terhadap kebenaran yang disampaikan kepadanya. Sedangkan Ibnu Abbas menjelaskan bahwa penyakit hati orang kafir adalah perasaan bimbang dan ragu, kegoncangan batin seperti inilah yang menjadikan mereka merasa gelisah.
Adapun bantahan atas ketidakimanan mereka antara lain sebagai berikut :
a) Adanya alam barang tentu ada penciptanya (dzat pencipta)
b) Manusia terdiri dari jiwa dan raga, jiwa butuh tujuan/idola atau sesuatu yang untuk membimbingnya adalah Allah SWT.
c) Dzat pencipta. Yaitu Allah SWT. Absolute, meliputi segala sesuatu yang ada.

3. Hikmah iman kepada Allah
Hikmah iman kepada Allah antara lain sebagai berikut :
a) Iman sebagai dasar/pedoman, dengan iman kepada Allah hidupnya menjadi tenang karena memiliki pedoman hidup yang terjamin kebenaranya, disamping karena senantiasa ingat kepada Allah SWT.
b) Iman sebagai bimbingan jiwa. Orang yang beriman akan selalu mendapat bimbigan dari Allah SWT.
c) Iman sebagai motivasi. Orang yang beriman kepada Allah akan terdorong hati nuraninya untuk bersikap dermawan dan penuh dengan rasa kesetiaan yang tinggi.


TAQWA
1. Pengertian Taqwa

Menurut Imam Ghozali : Taqwa didalam Al_qur’an disebut dalam tiga pengertian

Pertama : Takut dan malu
Kedua : Taat dan beribadah
Ketiga : Membersihkan hati dari dosa, dan yang terakhir adalah taqwa yang sejati.


Demikianlah pengertian taqwa menurut Imam Ghozali. Secara umum, taqwa adalh suatu perkataan yang mengungkapkan penghindaran diri dari kemurkaan Allah SWT dan siksaan-Nya. Yakni dengan melaksanakan apa yang diperintah-Nya dan menahan diri dari melakukan segala larangan-Nya. Hakikat taqwa ialah Tuhan melihat kehadiranmu dimana DIA telah melarangmu. Tuhan tidak kehilanganmu dimana DIA telah memerintahkanmu.

2. Amalan Taqwa
Amalan taqwa bukan sebatas apa yang terkandung didalam rukun islam, seperti syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji saja. Bukan sebatas membac al-quran atau berzikir. Amalan taqwa juga tidak hanya dimasjid saja. Amalan taqwa adalah apa saja amalan dan perbuatan yang dilandaskan syariat, baik itu fardu, wajib, sunah, mubah atau apa saja amalan dan perbuatan yang dijauhi dan ditinggalkan baik itu haram dan makruh.
Ini termasuklah segala perkara yang berlaku dalam kehidupan, baik kehidupan kesehariandalam bidang ekonomi, pembangunan, pendidikan, kenegaraan, kebudayaan, menejemen, kesehatan, dan sebagainya. Asalkan yang dilakukan atau ditinggalkan itu terkait dank arena Allah, maka itulah taqwa. Sedangkan amalan yang yang tidak terkait dan tidak dilakukan karena Allah, itu adalah amalan yang tidak ada nyawa, jiwa, atau rohnya dan ia tidak ada nilainya disisi-Nya.
Begitu pentingnya ketaqwaan bagi seorang muslim, sehingga derajat seorang manusia ditentukan oleh kadar ketaqwaannya kepa Allah. Mulia atau tidaknya seorang manusia bukan ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki atau jabatan yang diduduki. Tidak mustahil, jika ada seseorang jabatannya tinggi, hartanya berlimpah, dipuji oleh manusia, tetapi karena tidak bertaqwa kepada Allah, maka ia pun tidak memiliki derajat disisi Allah SWT. Sebaliknya, seorang pemulung yang dicaci dan dihina di hadapan Allah SWT derajatnya melebihi seorang pejabat yang dipuji tetapi ternyata korupsi. Berbicara juga dapat menjadi taqwa kalau apa yang dibicarakan itu adalah ilmu, nasehat, atau perkara-perkara yang baik, manfaat dan dilakukan karena Allah. Diam juga dapat menjadi taqwa, kalau diam itu untuk mengelakan dari kata-kata perkara yang maksiat ddan sia-sia atau tidak menyakiti hati orang dan dilakukan karena takut kepada Allah.

3. Ciri-Ciri Orang yang Bertaqwa Kepada Allah
Ciri-ciri orang yang bertaqwa kepada Allah antara lain sebagai berikut :
a) Gemar menginfakkan harta bendanya dijalan Allah, baik dalam waktu sempit maupun lapang.
b) Mampu menahan diri dari sifat marah
c) Selalu memanfaatkan orang lain yang telah membuat salah kepadanya (tidak pendendam)
d) Saat terjerumus pada perbuatan keji dan dosa atau mendzalimi diri sendiri, ia segera ingat kepada Allah, lalu bertaubat dan beristigfar, memohon ampun kepada-Nya atas dosa yang telah dilakukan
e) Tidak meneruskan perbuatan keji itu lagi dengan kesadaran dan sepengetahuan dirinya.

4. Nikmat orang yang bertaqwa
Hasil yang akan diperoleh dan nikmat yang akan diraih oleh orang yang bertaqwa, antara lain srebagai berikut:
a) Ia akan memperoleh al-furqon, yaitu kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, halal dan haram, antara yang sunah dengan bid’ah. Seperti firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dasa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Anfal :29).
b) Ia akan memperoleh jalan keluar dari segala macam problema yang dihadapinya.
c) Amalan-amalan baiknya diterima oleh Allah hingga menjadi berat timbangannya dihari kiamat kelak, mudah penghisapannya dan ia menerima kitab catatan amalannya dengan tangan kanan.
d) Allah akan memasukkan ke surga, kekal didalamnya serta hidup dalam keridhoan-Nya.

MODERN
1. Pengertian Masyarakat Modern
Masyarakat modern adalah komunitas orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan-aturan tertentu yang bersifat modern dan serta penggunaan teknologi.

2. Ciri-Ciri pokok Masyarakat Modern
Ciri-ciri masyarakat modern menurut Deliar Noor:
a) Bersifat rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat yang berdasarkan akal.
b) Berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat.
c) Menghargai waktu, yakni memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sehingga tidak ada waktu yang mubazir tanpa makna.
d) Bersifat terbuka, yakni mau menerima kritikan, saran, masuka untuk perbaika yang datang dari manapun.
e) Berfikir objektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaan bagi masyarakat.

3. Tantangan, problem dan resiko kehidupan modern
a) Realitas kemampuan manusia:
• Manusia tidak hanya mengenal nama-nama benda yang ada
• Manusia dapat mengembangkan dana dan menciptakan nama-nama baru pada benda yang diciptakannya
• Kemampuan membuat benda-benda (fisik-non fisik)
• Manusia bisa mengembangkan kebudayaannya akibat sains dan teknologi.

b) Persoalan manusia diera modern

Problem Utama Modernitas :
- Terjadi pencemaran lingkungan
- Rusaknya habitat hewan dan tumbuhan
- Munculnya beragam penyakit.

Dalam Bidang Ekonomi :
- Melahirkan manusia yang konsumtif, materialistic, dan eksploitatif
- Manusia hanya memandang dirinya sebagai mahluk ekonomis dan hanya mementingkan diriya sendiri.
- Manusia melupakan dirinya sebagai mahluk homo religious yang sarat dengan kaidah moral.
- Prinsip ekonomi kapitalis telah melahirkan manusia serakah dan egois.

Dalam Bidang Moral :
- Melalui tekhnologi informasi diekspose secara besar-besaran meski melebihi batasan-batasan agama
- Globalisasi, memanamkan nilai-nilai barat dan melepas nilai-nilai moral agama

Dalam Persoalan Sekularisme :
- Urusan dunia dipisahkan dari agama
- Munculny manusia berkeptibadian ganda
- Peran agama akan semakin kehilangan ruhnya

Dalam Persoalan Keilmuan
Sesuatu dikatakan benar jika, menggunakan tolak ukur kebenaran rasional, emperis, eksperimental, dan terukur secara metodologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar