A. Hakikat Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada awalnya suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaannya dan lingkungannya, serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam rangka strategi hidupnya. Ilmu pengetahuan pada awalnya diciptakan dan dikembangkan untuk membuat hidup manusia lebih mudah dan lebih nyaman untuk dinikmati, artinya ilmu diciptakan dan dikembangkan sebagai sarana untuk membantu manusia meringankan beban kehidupannya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, khususnya pada abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu tidak lagi sebagai sarana kehidupan bagi manusia, tetapi telah menjadi substantif yang menguasai kehidupan umat manusia baik secara ekstensif maupun intensif. Cara kerja ilmu adalah cara kerja berpikir manusia yang mempertanyakan tentang seluk-beluk ilmu pengetahuan. Manusia berpikir maka manusia menguasai ilmu. Ilmu berkembang dan makin bermanfaat bagi manusia berkat kemampuan manusia. tanpa kemampuan berpikir manusia, maka ilmu tidak mungkin tumbuh, berkembang, dan bermanfaat. Selain manusia dikaruniai akal untuk berpikir, manusia dikaruniai hasrat ingin tahu dan rasa ketidakpuasan. Hasrat ini diwujudkan dengan bertanya-tanya tentang dunia. Bertanya adalah wujud dari rasa ingin tahu.
Melalui sejarah perkembangan ilmu, kita dapat memahami makna kehadiran ilmu bagi umat manusia. Sejarah perkembangan ilmu itu sendiri merupakan suatu tahapan yang terjadi secara periodik. Setiap periode menampilkan cirri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Mohammad Hatta menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu lahir karena manusia dihadapkan pada dua masalah, yaitu alam luaran (kosmos) dan soal sikap hidup (etik). Ilmu-ilmu alam senantiasa memandang alam dari satu jurusan melalui ukuran atau metode dan saran tertentu dengan peninjauan tertentu pula. Ilmu alam mencari keterangan mengenai benda-benda di alam yang dapat diketahui dengan pancaindera. Cabang-cabang ilmu alam muncul pertama kali adalah ilmu perbintangan (astronomi) disusul matematik yang merupakan sarana berpikir. Kemudian disusul ilmu fisika, kimia, botani zoology, ilmu bumi dan lain-lain. Pada awalnya ilmu-ilmu itu hanya bersifat teoritik, manusia semata-mata ingin mengetahui sifat-sifat benda dan kodrat alam. Ketika manusia menerapkannya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupannya, maka timbullah ilmu-ilmu praktik seperti: teknik, agraria, kedokteran, dan lain-lain. Ilmu sosial timbul karena manusia menyadari akan adanya masalah dalam hubungan manusia di dalam suatu masyarakat.
Seorang berfilsafat diumpamakan seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuan tidak puas mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. ia ingin melihat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya, kaitan ilmu dengan moral, dan kaitan ilmu dengan agama. Karakteristik berpikir filsafat yang kedua adalah sifat mendasar. Dia tidak percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat disebut benar? Apakah criteria kebenaran itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti sebuah lingkaran yang melingkar. Lalu bagaimana menentukan titik awal untuk membuat lingkaran tersebut? Dalam hal ini kita hanya berspekulasi. Inilah cara berpikir filsafat yang ketiga, yaitu spekulatif. Pada tataran ontology, ilmu pengetahuan adalah hasil proses kegiatan refleksi ilmuan atau pemikir dalam mengahadapi masalah yang menyangkut dirinya sendiri maupun lingkungannya.
Sarana berpikir filsafat berupa pertanyaan reflektif untuk mempertanyakan kembali jawabannya. Ada beberapa macam proses kegiatan refleksi, yaitu;
1. Kegiatan refleksi spekulatif, merupakan kegiatan pokok dalam berfilsafat. Berarti membuat dugaan-dugaan yang masuk akal yang dapat dipertanggung-jawabkan mengenai sesuatu yang tidak berdasarkan bukti. Ini merupakan kegiatan akal manusia yang dengan melalui kemampuannya dalam imajinasi yang berdisiplin untuk menghadapi secara efektif persoalan-persoalan filsafat yang menantang akal.
2. Kegiatan refleksi deskripsi, adalah suatu uraian yang terperinci mengenai suatu yang terdiri dari aspek-aspeknya yang penting. Berarti memberikan keterangan bagaimana hal itu terjadi. Dengan demikian keterangan dapat dipandang sebagai tujuan langsung dari suatu deskripsi.
3. Kegiatan refleksi analisis, dimaksudkan sebagai penjelasan arti istilah-istilah yang menjadi dasar pada penyelidikan filsafat. Gilbert Ryle dan Moris Schlick menganggap analisis sebagai fungsi yang tunggal dan menyeluruh dari filsafat harus didefinisikan sebagai pencarian arti atau kegiatan menemuksn srti. Menurut konsepsinya filsafat adalah suatu kegiatan, kegiatan mental tentang penjelasan gagasan-gagasan dengan suatu analisis terhadap arti-arti.
4. Kegiatan refleksi evaluasi, merupakan penaksiran tentang sifat nilai yang melekat pada suatu hal. Memberi nilai berarti menetapkan patokan-patokan nilai dan pertimbangannya. Hasil-hasil pertimbangan tersebut menjadi pedoman bagi pilihan-pilihan yang dibuat oleh manusia.
5. Kegiatan refleksi komprehensif, adalah kegiatan mengerti dengan sungguh-sungguh tentang masalah, fakta, dan gagasan. Pemahaman dapat dicapai melalui lima cara, yaitu (1) menyatukan dan menghubung-hubungkan berbagai fakta atau gagasan, (2) mendeduksikan sesuatu dari premis-premis, (3) menyesuaikan berbagai fakta baru dengan pengetahuan yang mapan, (4) meninjau gagasan dalam hubungannya dengan ketepatan dan kepentingannya, dan (5) menghubungkan suatu fakta dengan sesuatu yang diketahui, universal, dan terikat pada kaidah.
6. Kegiatan refleksi penafsiran, merupakan kegiatan akal untuk memberikan arti pada pengalaman manusia. Tujuannya adalah dapat dipahaminya sesuatu yang dialami manusia. Melalui penafsiran dan mungkin penafsiran kembali suatu pengalaman atau peristiwa dapat memperoleh pemahaman rasional yang sempurna, dapat dinilai secara benar.
Semua kegiatan refleksi yang sudah dikemukakan itu merupakan aspek ontologi dari ilmu pengetahuan baik sebagai proses proses maupun sebagai produk. Secara sederhana, ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan. Tetapi kumpulan pengetahuan tidak sama dengan ilmu pengetahuan. Hanya kumpulan pengetahuan yang memiliki syarat-syarat tertentu yang dapat dikatakan ilmu pengetahuan. Mencari ilmu secara jelas dan khas merupakan rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh para ilmuan untuk memperoleh pengetahuan. Rangkaian aktivitas ini menggunakan pikiran yang menyangkut pengertian dan pemahaman, serta mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang mengarahkan aktivitas. Tujuan umum yang ingin dicapai oleh para ilmuan adalah mencapai kebenaran mengenai sesuatu hal. Kebenaran tersebut bagi para ilmuan akan memberikan pemahaman mengenai alam semesta, tentang dirinya sendiri, lingkungan dan masyarakat. Ilmu juga diarahkan pada tujuan penerapan, yaitu melaksanakan berbagai pengetahuan yang telah diperoleh untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Ada tiga arti mengenai ilmu pengetahuan, yaitu :
1. Ilmu pengetahuan sebagai produk adalah pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenaranya oleh masyarakat ilmuan. Pengetahuan ilmiah terbatas pada kenyataan-kenyataan yang mengandung kemungkinan-kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji, atau dibantah oleh seseorang.
2. Ilmu pengetahuan sebagai proses adalah kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunia alami sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Metode ilmiah yang dipakai adalah analisis rasional objektif, sejauh mungkin bersifat impersonal dari masalah-masalah yang didasarkan pada percobaan dan data yang diamati.
3. Ilmu pengetahuan dalam masyarakat adalah dunia pergaulan yang tindak tanduknya, perilaku dan sikap serta tutur katanya diatur oleh empat ketentuan, yaitu universal, komunalisme, tanpa pamrih, dan skeptisisme. Universal berarti bahwa ilmu pengetahuan itu bebas dari warna kulit, ras, keturunan maupun keyakinan agama. Komunalisme berarti bahwa ilmu pengetahuan merupakan milik masyarakat. Tanpa pamrih berarti ilmu pengetahuan bukan propaganda. Skeptisisme yang teratur berarti keinginan untuk mengetahui dan bertanya didasarkan pada nalar dan keteraturan berpikir.
Van Melsen mengemukakan beberapa ciri yang menandai ilmu pengetahuan, yaitu; (1) Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya system dalam penelitian maupun harus tersusun logis. (2) Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuan. (3) Universal ilmu pengetahuan. (4) Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif. (5) Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan. (6) Progresivitas artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem-problem baru lagi. (7) Kritis, artinya tidak ada teori terbuka bagi ilmiah yang difinitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru. (8) Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.
Filsafat ilmu merupakan telaahan melalui proses tanya jawab secara radikal tentang ilmu. Misalnya :
Apakah bahsa itu? Bagaimana wujud hakiki dari bahasa? Bagaimana jenis dan ragam bahasa? terdiri dari unsure apa sajakah bahasa? Bagaimana bagian-bagiannya?
Apakah bahasa wujud yang dapat diajarkan? Bagaimana memahami kemahiran bahasa sebagai sarana dan bahasa sebagai ilmu? Bagaimana pendekatan< metode, dan cara mempelajari bahasa?
Untuk apa bahasa dipelajari dan apa manfaat ilmu bagi manusia? Apakah dengan kemahiran bahasa, manusia dapat menjadi sejahtera, dan masyarakat menjadi aman atau bahkan sebaliknya menjadi tidak aman?
Pertanyaan-pertanyaan diatas dapat dikelompokkan berdasarkan ntingkat jawaban yang hendak diperolehnya, karena studi ilmu pengetahuan bertujuan untuk memperoleh hakikat jawaban tertentu. Kelompok pertanyaan pertama bertujuan menggali dan memperoleh jawaban tentang apa adanya, baik syarat maupun hakikat adanya sesuatu, tentang keberadaan sesuatu. kelompok pertanyaan kedua hendak menggali hakikat cara bagaimana ilmu pengetahuan itu berkembang, dipelajari, dan dimanfaatkan. Kelompok pertanyaan ketiga hendak mendalami persoalan nilai, manfaat, dan kaidah moral keilmuan bagi manusia. Dengan bahasa sederhana dapat disebutkan yang pertama dimensi tentang ada atau apanya, yang kedua dimensi tentang bagaimana, dan yang ketiga dimensi tentang nilai atau manfaatnya. Istilah filsafatnya dimensi ontologi, dimensi epistemology, dan dimensi aksiologi. Kata dimensi digunakan untuk menunjukkan sudut pandang terhadap sesuatu.
KATEGORI
- AGAMA (2)
- BIMBINGAN KONSELING (9)
- FILSAFAT ILMU (5)
- ILMU MATEMATIKA (3)
- PROFESI KEGURUAN (2)
- PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (4)
Minggu, 18 Desember 2011
KONSEP SERTA PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR YANG BERMAKNA DI PERGURUAN TINGGI
A. Pendahuluan
Dosen mempunyai peran dan kedudukan strategis dalam keseluruhan proses pendidikan, terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya. Sehubungan dengan ini, G.F. Moody (Rochman Natawidjaja, 31:1988) mengemukakan pendapatnya, bahwa sesungguhnya keberhasilan dari suatu masyarakat yang teratur sangat bergantung kepada dosen.
Dosen bukan sekadar penyampai pelajaran, bukan pula sebagai penerap metode mengajar, melainkan dosen adalah pribadinya, yaitu keseluruhan penampilan serta perwujudan dirinya dalam berinteraksi dengan mahasiswa. Sehubungan dengan ini, H.W. Bernard (Rochman Natawidjaja, 32:1988) menyatakan, bahwa pribadi dosenlah yang menentukan mutu dan arah pertumbuhan mahasiswa.
B. Konsep serta Peran Bimbingan dan Konseling dalam Proses Belajar Mengajar yang Bermakna
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu unsur terpadu dalam keseluruhan program pendidikan di lingkungan perguruan tinggi. Jadi, bimbingan dan konseling itu merupakan salah satu tugas yang seyogyanya dilakukan oleh setiap tenaga pendidik yang bertugas di perguruan tinggi termasuk dosen.
Bimbingan dan konseling di perguruan tinggi adalah suatu proses pemberian bantuan kepada mahasiswa yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya mahasiswa tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan kampus, keluarga, serta masyarakat dan kehidupan pada umumnya.
Peran bimbingan dan konseling itu merupakan kompetensi penyesuaian interaksional yang merupakan kemampuan dosen untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik mahasiswa dan suasana belajar mahasiswa.
1. Peran Bimbingan dalam Kegiatan Belajar Mahasiwa
Perlakuan dosen yang dikemukakan tersebut merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kegiatan belajar mahasiswa. Unsur lainnya, diantaranya, yaitu tujuan, pribadi siswa, dan fasilitas lainnya. Kegiatan belajar mahasiswa merupakan perpaduan semua unsur yang dimaksud. Keberhasilan belajar mungkin akan kurang, apabila salah satu dari unsur itu tidak memadai keadaanya.
Pribadi dosen, dalam hal ini mencakp pandangannya tentang mengajar, kekuatan pribadinya, serta pandangan dan filsafat hidupnya. Dalam hal ini, termasuk pandangan dan kepeduliannya tentang bimbingan.
2. Peran Bimbingan dalam Interaksi Dosen Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar.
Dalam keseluruhan transaksi mengajar (proses belajar mengajar) itu terdapat tiga aspek perbuatan pokok yang selalu terjadi, yaitu pengajaran (instruction), kepemimpinan (leadership) dan penilaian (evaluation). Dalam kepemimpinan, ada unsur pokok peran bimbingan, yaitu memberi kemudahan (facilitation) dan pemeliharaan (maintenance).
Dalam proses belajar-mengajar, hendaknya dosen memelihara iklim psikologis kelas supaya terjadi suasana gembira, bersemangat kerja, berkompetisi secara sehat, tiada tekanan serta terpupuk keinginan untuk maju dan berprestasi.
3. Peran Bimbingan dalam Interaksi Manusiawi
James E. Weigand berpendapat, bahwa proses belajar mengajar terpusat pada diri mahasiswa dengan membangun kondisi atau suasana belajar yang menyenangkan, serta memanfaatkan kompetensi dosen, terarah pada pendidikan yang mempribadi (personalizing education) melalui interaksi manusiawi antara mahasiswa dan dosen.
Kondisi atau suasana belajar yang menyenangkan itu dikhususkan pada unsur-unsur berikut :
a. Kebebasan untuk menjelajah (explore)
Suasana belajar yang baik memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan pendekatan dan cara yang bervariasi.
b. Waktu yang cukup untuk menjelajah
Kecukupan waktu ini disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa. Kondisi ini sangat penting, mengingat bahwa proses belajar itu menyangkut proses berpikir, dan proses berpikir itu memerlukan waktu.
c. Pemanfaatan dan penerimaan terhadap jawaban yang salah
Seorang mahasiswa yang memberikan jawaban salah kepada dosen, dan secara langsung disalahkan dan ditolak oleh dosen, cenderung mengalihkan kegiatannya ke luar proses belajar dan keluar interaksi belajar mengajar.
Sebaliknya apabila jawaban yang salah itu diterima dan dikejar dengan suatu pertanyaan tambahan, maka mahasiswa akan segera mengetahui kesalahannya, kemudian menemukan sendiri jawaban yang benar.
d. Tidak terlampau peduli (lesser concern) terhadap kurun waktu belajar.
Banyak dosen yang terlalu ketat terikat pada waktu yang tersedia untuk belajar dan cenderung untuk mengakhiri kegiatan belajar tepat pada waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, sedangkan setiap mahasiswa memiliki kecepatan belajar sendiri-sendiri.
e. Tidak terlampau peduli terhadap verbalisasi
Dalam menilai keberhasilan mahasiswa belajar, seharusnya seorang dosen tidak terjebak oleh kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi secara verbal. Kemampuan tersebut memang penting dan merupakan alat untuk menyatakan hasil belajar, sekaligus merupakan salah satu hasil belajar.
Siswa yang tidak mampu menyatakan pikirannya dengan kata-kata yang memadai, pada umumnya mempergunakan komunikasi non verbal (body language). Oleh karena itu, seyogyanya dosen memahami komunikasi non verbal.
Wahana yang efektif untuk dapat terpadunya pengembangan kondisi belajar dan penerapan kompetensi untuk menunjang kelestarian hasil belajar pada diri mahasiswa ialah interaksi manusiawi di antara mahasiswa dan dosen. Interaksi manusiawi dapat menjadikan pengajaran sebagai pendidikan yang mempribadi.
Pendidikan mempribadi ini berasumsi bahwa hasil pengajaran atau pendidikan bukan hanya berupa kepatuhan akan kaidah dan peraturan yang diajarkan, atau identifikasi terhadap perilaku pendidiknya, melainkan sampai pada internalisasi norma dan nilai yang diinginkan.
Dosen mempunyai peran dan kedudukan strategis dalam keseluruhan proses pendidikan, terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya. Sehubungan dengan ini, G.F. Moody (Rochman Natawidjaja, 31:1988) mengemukakan pendapatnya, bahwa sesungguhnya keberhasilan dari suatu masyarakat yang teratur sangat bergantung kepada dosen.
Dosen bukan sekadar penyampai pelajaran, bukan pula sebagai penerap metode mengajar, melainkan dosen adalah pribadinya, yaitu keseluruhan penampilan serta perwujudan dirinya dalam berinteraksi dengan mahasiswa. Sehubungan dengan ini, H.W. Bernard (Rochman Natawidjaja, 32:1988) menyatakan, bahwa pribadi dosenlah yang menentukan mutu dan arah pertumbuhan mahasiswa.
B. Konsep serta Peran Bimbingan dan Konseling dalam Proses Belajar Mengajar yang Bermakna
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu unsur terpadu dalam keseluruhan program pendidikan di lingkungan perguruan tinggi. Jadi, bimbingan dan konseling itu merupakan salah satu tugas yang seyogyanya dilakukan oleh setiap tenaga pendidik yang bertugas di perguruan tinggi termasuk dosen.
Bimbingan dan konseling di perguruan tinggi adalah suatu proses pemberian bantuan kepada mahasiswa yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya mahasiswa tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan kampus, keluarga, serta masyarakat dan kehidupan pada umumnya.
Peran bimbingan dan konseling itu merupakan kompetensi penyesuaian interaksional yang merupakan kemampuan dosen untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik mahasiswa dan suasana belajar mahasiswa.
1. Peran Bimbingan dalam Kegiatan Belajar Mahasiwa
Perlakuan dosen yang dikemukakan tersebut merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kegiatan belajar mahasiswa. Unsur lainnya, diantaranya, yaitu tujuan, pribadi siswa, dan fasilitas lainnya. Kegiatan belajar mahasiswa merupakan perpaduan semua unsur yang dimaksud. Keberhasilan belajar mungkin akan kurang, apabila salah satu dari unsur itu tidak memadai keadaanya.
Pribadi dosen, dalam hal ini mencakp pandangannya tentang mengajar, kekuatan pribadinya, serta pandangan dan filsafat hidupnya. Dalam hal ini, termasuk pandangan dan kepeduliannya tentang bimbingan.
2. Peran Bimbingan dalam Interaksi Dosen Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar.
Dalam keseluruhan transaksi mengajar (proses belajar mengajar) itu terdapat tiga aspek perbuatan pokok yang selalu terjadi, yaitu pengajaran (instruction), kepemimpinan (leadership) dan penilaian (evaluation). Dalam kepemimpinan, ada unsur pokok peran bimbingan, yaitu memberi kemudahan (facilitation) dan pemeliharaan (maintenance).
Dalam proses belajar-mengajar, hendaknya dosen memelihara iklim psikologis kelas supaya terjadi suasana gembira, bersemangat kerja, berkompetisi secara sehat, tiada tekanan serta terpupuk keinginan untuk maju dan berprestasi.
3. Peran Bimbingan dalam Interaksi Manusiawi
James E. Weigand berpendapat, bahwa proses belajar mengajar terpusat pada diri mahasiswa dengan membangun kondisi atau suasana belajar yang menyenangkan, serta memanfaatkan kompetensi dosen, terarah pada pendidikan yang mempribadi (personalizing education) melalui interaksi manusiawi antara mahasiswa dan dosen.
Kondisi atau suasana belajar yang menyenangkan itu dikhususkan pada unsur-unsur berikut :
a. Kebebasan untuk menjelajah (explore)
Suasana belajar yang baik memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan pendekatan dan cara yang bervariasi.
b. Waktu yang cukup untuk menjelajah
Kecukupan waktu ini disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa. Kondisi ini sangat penting, mengingat bahwa proses belajar itu menyangkut proses berpikir, dan proses berpikir itu memerlukan waktu.
c. Pemanfaatan dan penerimaan terhadap jawaban yang salah
Seorang mahasiswa yang memberikan jawaban salah kepada dosen, dan secara langsung disalahkan dan ditolak oleh dosen, cenderung mengalihkan kegiatannya ke luar proses belajar dan keluar interaksi belajar mengajar.
Sebaliknya apabila jawaban yang salah itu diterima dan dikejar dengan suatu pertanyaan tambahan, maka mahasiswa akan segera mengetahui kesalahannya, kemudian menemukan sendiri jawaban yang benar.
d. Tidak terlampau peduli (lesser concern) terhadap kurun waktu belajar.
Banyak dosen yang terlalu ketat terikat pada waktu yang tersedia untuk belajar dan cenderung untuk mengakhiri kegiatan belajar tepat pada waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, sedangkan setiap mahasiswa memiliki kecepatan belajar sendiri-sendiri.
e. Tidak terlampau peduli terhadap verbalisasi
Dalam menilai keberhasilan mahasiswa belajar, seharusnya seorang dosen tidak terjebak oleh kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi secara verbal. Kemampuan tersebut memang penting dan merupakan alat untuk menyatakan hasil belajar, sekaligus merupakan salah satu hasil belajar.
Siswa yang tidak mampu menyatakan pikirannya dengan kata-kata yang memadai, pada umumnya mempergunakan komunikasi non verbal (body language). Oleh karena itu, seyogyanya dosen memahami komunikasi non verbal.
Wahana yang efektif untuk dapat terpadunya pengembangan kondisi belajar dan penerapan kompetensi untuk menunjang kelestarian hasil belajar pada diri mahasiswa ialah interaksi manusiawi di antara mahasiswa dan dosen. Interaksi manusiawi dapat menjadikan pengajaran sebagai pendidikan yang mempribadi.
Pendidikan mempribadi ini berasumsi bahwa hasil pengajaran atau pendidikan bukan hanya berupa kepatuhan akan kaidah dan peraturan yang diajarkan, atau identifikasi terhadap perilaku pendidiknya, melainkan sampai pada internalisasi norma dan nilai yang diinginkan.
RAGAM BIMBINGAN
A. Ragam Bimbingan Menurut Masalah
Dari maslaah individu ada empat jenis bimbingan, yaitu : bimbingan akademik, bimbingan sosial pribadi, bimbingan karier, dan bimbingan keluarga
1. Bimbingan Akademik
Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapidan menyelesaikan masalh-masalah akademik yang termasuk masalah-masalh akademik, yaitu pengenalan kurikulum, emilihan jurusan/cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan lanjutan dan lain-lain.
Bimbingan dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar-mengajar yang kondusif agar tehindar dari kesulitan belajar.
2. Bimbingan sosial pribadi
Bimbingan social pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah social pribadi yang termasuk maslah-aslah social pribadi adalah maslaah ubungan dengan sesame teman, dosen, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, serta penyelesaian konflik.
Bimbingan diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-keterampilan social pribadi.
3. Bimbingan karier
Bimbingan karier yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan pengembangan dan penyelesaian masalah-masalah karier, seprti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan dan penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi.
Bimbingan karier juga merupakan layanan pemenuhan kebutuhan perkembangan individu sebagai bagian integral dari program pendidikan. Bimbingan karier membantu individu mempersiapkan pekerjaan/jabatan, membantu individu pada saat bekerja, dan membantu individu setelah pensiun dari pekerjaan. Dengan layanan bimbingan karier, individu mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya sehingga mampu mewujudkan dirinya secara bermakna.
4. Bimbingan keluarga
Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara prduktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, sertaberperan/berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Bimbingan keluarga juga membantu individu yang akan berkeluarga memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sehingga individu siap menghadapi kehidupan berkeluarga.
B. Ragam Layanan Bimbingan
Dalam bimbingan dan konseling dibedakan empat jenis layanan utama, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan system.
1. Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu para individu mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan.
Contoh isi layanan dasar bimbingan untuk orang dewasa, yaitu :
a. Memiliki tanggungjawab social dan kewarganegaraan secara lebih dewasa
b. Membantu anak-anak dan pemuda khususnya anak kandungnya sendiri agar berkembang menjadi orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab
c. Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya bersama orang dewasa lain
2. Layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh individu saat ini. Isi layanan responsive adalah :
a. Bidang pendidikan, mengatasi masalah kesulitan dalam memilih pendidikan, jurusan, program studi yang cocok dengan minat, bakat dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
b. Bidang belajar, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam belajar, mengatur cara belajar, memprioritaskan pelajaran, serta strategi dan teknik belajar.
c. Dalam bidang social, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam hubungan social, kesulitan menyesuaikan dengan lingkungan keluarga, tetangga, teman, sekolah dan masyarakat.
d. Dalam bidang pribadi, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam mengatasi konflik internal pribadi, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan k esulitan dalam mengendalikan diri serta mengarahkan diri.
e. Dalam bidang karier, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam memilih pekerjaan yang cocok dengan minat, keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya.
3. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan social p ribadinya.
Isi layana perenecanaan individual adalah :
a. Bidang pendidikan dengan topik-topik belajar yang efektif, belajar memantapkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat dan karakteristik kepribadian lainnya.
b. Bidang karier dengan topik-topik mengidentifikasi kesempatan karier yang ada dilingkungan masyarakat, mengembangkan sikap positif terhadp dunia kerja dan merencanakan kedhiupan kariernya.
c. Bidang sosial-pribadi dengan topik mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman dan belajar memahami perasaan orang lain.
4. Dukungan system
Adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional; hubungan masyarakat dan staf; konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, dari masyarakat yang leih luas; manajemen program; serta penelitian dan pengembangan.
a. Layanan Pengumpulan data
Dalam layanan in, semua data tentang individu beserta latar belakangnya dibimpun dan didokumentasikan. Data dihimpun dari berbagai sumber dengan menggunakan angket. Wawancara, observasi, studi documenter, dan tes
Data yang dihimpun di antaranya data pribadi, keluarga, sosial, budaya, agama, status ekonomi, prestasi, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, ketahanmalangan, ketekunan, kerjainan, dan sebagainya.
b. Layanan Informasi
Layanan informasi merupakan layanan member informasi yang dibutuhkan oleh individu. Tujuan layanan ini adalah agar individu memiliki pengetahuan (informasi) yang memadai, baik tentang dirinya maupun tentang lingkungannya, lingkungan perguruan tinggi, masyarakat, serta sumber-sumber belajar termasuk internet. Informasi yang diperoleh individu sangat diperlukan agar individu lebih mudah dalam membuat perencanaan dan mengambil keputusan.
c. Layanan Penempatan
Layanan p enempatan merupakan layanan untuk mebantu individu dala meperoleh tempat bagi pengembangan potensi yang dimilikinya. Tujuan layanan ini adalah agar setiap individu dapat megnembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Setia individu diharapkan menempati kelompok, jurusan, program studi, serta saluran kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan segala kemampuan pribadinya.
d. Layanan Konseling
Layanan konseling merupakan layanan untuk membantu individu menyelesaikan masalah-maslah, terutama maslah sosial-pribadi yang mereka hadapi. Layanan konseling ini dilakukan melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli. Konselor memfasilitasi lingkungan psikologis konseli sehingga konseli dapat mengembangkan potensinya sebaik mungkin dan mampu mengatasi maslah yang dihadapinya sebaik mungkin.
e. Layanan Referal
Layanan referral merupakan layanan untuk melimpahkan maslah yang dihadapi individu kepada pihak lain yang lebih m ampu dan berwenang apabila maslah yang ditangani pembimbing di luar kemampuan dan kewenangan personal pemberi bantuan yang ada.
f. Layanan Evaluasi dan TIndak Lanjut
Untuk menilai pelaksanaan dan keberhasilan layanan bimbingan yang diberikan, diadkan evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut diadakan upaya-upaya tindak lanjut untuk menyempurnakannya.
Layanan evaluasi ini menyangkut evaluasi proses ataupun evaluasi hasil pelaksanaan bimbingan. Evaluasi proses menilai sejauh mana keterlaksanaan program bimbingan dan konseling itu didukung atau tidak oleh komponen-komponen yang terkait dengan sumber pelaksana, biaya, fasilitas, dan manajemen.
C. Ragam Pendekatan Bimbingan
Dilihat dari pendekatannya, bimbingan dibedakan atas empat pendekatan yaitu; (1) Pendekatan krisis; (2) Pendekatan remedial; (3) pendekatan preventif; dan (4) pendekatan perkembangan.
1. Pendekatan Krisis
Pendekatan krisi disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisi atau masalah. Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisi atau maslah=-maslah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing menunggu individu yang dating. Selanjutnya, mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan individu.
2. Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuan bimbingan ini adala untuk memantu memperbaiki kekurangan/ kelemahan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan-kelemahan individu dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
3. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada antisipasi maslah-masalah umum individu, mencegah jangan sampai masalah tersebut menimpa indivd\idu. Pembimbing memberikan bebrapa upaya, seperti informasi dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
4. Pendekatan perkembangan.
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Dalam pendekatan ini, layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui layanan pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, serta penyaluran bakat dan minat.
D. Ragam Teknik Bimbingan
Ada beberapa macam teknik bimbingan yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan individu, yaitu konseling, nasihat, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mengajar bernuasnsa bimbingan.
1. Konseling
Konseling m erupakan bantuan yang bersifat terapeutik yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku individu. Konseling dilaksanakan melalui wawncara (konseling) langsung dengan individu. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, bukan yang mengalami kesulitan kejiwaan, melainkan hanya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam pendidikan, pekerjaan, dan k ehidupan sosial.
Dalam konseling berisi proses belajar yang ditujukan agar konseli (individu) dapat mengenal diri, menerima, mengarahkan, dan menyesuaikan diri secara realistis dalam kehidupannya di kampus ataupun luar kampus. Dalam konseling tercipta hubungan pribadi yang unik dan khas dengan hubungan tersebut individu diarahkan agar dapat membuat keputusan, pemilihan, dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperan lebih baik di lingkungannya.
2. Nasihat
Nasihat merupakan salah satu teknik bimbingan yang dapat diberikan oleh konslor ataupun pembimbing. Pemberian nasihat hendaknya memerhatikan hal-hal sebagi berikut.
a. Berdasarkan masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh klien (individu),
b. Diawali dengan menghimun data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi,
c. Nasihat yang diberikan bersifat alternative yang dapat dipilih oleh individu, disertai kemungkinan keberhasilan dan kegagalan.
d. Hendaknya, individu mau dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya.
3. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas maslaah-maslah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.
Bimbingan kelompok dilaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kecil (2 – 6 orang), kelompok sedang (7 – 12 orang), dan kelompok besar (13 – 20 orang) atau kelas (20-40 orang). Pemberian informasi dalam bimbingan kelompok terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang kenyataan, aturan-aturan dalam kehidupan, dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan tugas, serta meraih masa depan dalam studi, karier, ataupun kehidupan. Aktivitas kelompok diarahkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman lingkungan, penyesuaian diri, serta pengembangan diri.
4. Konseling kelompok
Konseling kelopok merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian k emudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti, bahwa individu yang bersangkutan mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secar wajar dalam masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelehaman dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat member k emudahan bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti member kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap dan perilakunya selaras dengan lingkungannya.
Individu dalam konseling kelompok pada dasarnya adalah individu normal yang memiliki berbagai kepedulian dan kemampuan, serta persoalan yang dihadapi bukanlah gangguan kejiwaan yang tergolong sakit, hanya kekeliruan dalam penyesuaian diri.
5. Mengajar bernuansa bimbingan
Bimbingan waktu mengajar yang dapat dilakukan oleh dosen berupa menjelaskan tujuan dan manfaat perkuliahan, cara belajar, mata kuliah yang diberikan, dorongan untuk berprestasi, membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu, penyelesaian tugas, merencanakan asa depan, memberikan fasilitas belajar, member kesempatan untuk berprestasi, dan lain-lain.
Secara umum, bimbingan yang dapat diberikan guru/dosen sambil mengajar adalah (1) mengenal dan memahami individu secara mendalam; (2) memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual; (3) memperlakukan individu secara manusiawi; (4) member kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal; dan (5) menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan prinsip-prinsip/bernuansa bimbingan tampak sebgai berikut.
a. Tercipta iklim kelas yang permisif, bebas dari keegagan dan menemakan individu sebagai subjek pengajaran.
b. Adanya arahan/orientasi agar terselenggaranya bealjar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhan perkuliahan.
c. Menerima dan memperlakukan individu sebagi individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya.
d. Mempersiapkan serta menyelenggarakan perkuliahan sesuai denga kebutuhan dan kemampuan individu.
e. Membina hubungan yang dekat dengan individu, menerima individu yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan.
E.
Dari maslaah individu ada empat jenis bimbingan, yaitu : bimbingan akademik, bimbingan sosial pribadi, bimbingan karier, dan bimbingan keluarga
1. Bimbingan Akademik
Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapidan menyelesaikan masalh-masalah akademik yang termasuk masalah-masalh akademik, yaitu pengenalan kurikulum, emilihan jurusan/cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan lanjutan dan lain-lain.
Bimbingan dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar-mengajar yang kondusif agar tehindar dari kesulitan belajar.
2. Bimbingan sosial pribadi
Bimbingan social pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah social pribadi yang termasuk maslah-aslah social pribadi adalah maslaah ubungan dengan sesame teman, dosen, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, serta penyelesaian konflik.
Bimbingan diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-keterampilan social pribadi.
3. Bimbingan karier
Bimbingan karier yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan pengembangan dan penyelesaian masalah-masalah karier, seprti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan dan penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi.
Bimbingan karier juga merupakan layanan pemenuhan kebutuhan perkembangan individu sebagai bagian integral dari program pendidikan. Bimbingan karier membantu individu mempersiapkan pekerjaan/jabatan, membantu individu pada saat bekerja, dan membantu individu setelah pensiun dari pekerjaan. Dengan layanan bimbingan karier, individu mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya sehingga mampu mewujudkan dirinya secara bermakna.
4. Bimbingan keluarga
Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara prduktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, sertaberperan/berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Bimbingan keluarga juga membantu individu yang akan berkeluarga memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sehingga individu siap menghadapi kehidupan berkeluarga.
B. Ragam Layanan Bimbingan
Dalam bimbingan dan konseling dibedakan empat jenis layanan utama, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan system.
1. Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu para individu mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan.
Contoh isi layanan dasar bimbingan untuk orang dewasa, yaitu :
a. Memiliki tanggungjawab social dan kewarganegaraan secara lebih dewasa
b. Membantu anak-anak dan pemuda khususnya anak kandungnya sendiri agar berkembang menjadi orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab
c. Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya bersama orang dewasa lain
2. Layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh individu saat ini. Isi layanan responsive adalah :
a. Bidang pendidikan, mengatasi masalah kesulitan dalam memilih pendidikan, jurusan, program studi yang cocok dengan minat, bakat dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
b. Bidang belajar, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam belajar, mengatur cara belajar, memprioritaskan pelajaran, serta strategi dan teknik belajar.
c. Dalam bidang social, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam hubungan social, kesulitan menyesuaikan dengan lingkungan keluarga, tetangga, teman, sekolah dan masyarakat.
d. Dalam bidang pribadi, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam mengatasi konflik internal pribadi, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan k esulitan dalam mengendalikan diri serta mengarahkan diri.
e. Dalam bidang karier, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam memilih pekerjaan yang cocok dengan minat, keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya.
3. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan social p ribadinya.
Isi layana perenecanaan individual adalah :
a. Bidang pendidikan dengan topik-topik belajar yang efektif, belajar memantapkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat dan karakteristik kepribadian lainnya.
b. Bidang karier dengan topik-topik mengidentifikasi kesempatan karier yang ada dilingkungan masyarakat, mengembangkan sikap positif terhadp dunia kerja dan merencanakan kedhiupan kariernya.
c. Bidang sosial-pribadi dengan topik mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman dan belajar memahami perasaan orang lain.
4. Dukungan system
Adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional; hubungan masyarakat dan staf; konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, dari masyarakat yang leih luas; manajemen program; serta penelitian dan pengembangan.
a. Layanan Pengumpulan data
Dalam layanan in, semua data tentang individu beserta latar belakangnya dibimpun dan didokumentasikan. Data dihimpun dari berbagai sumber dengan menggunakan angket. Wawancara, observasi, studi documenter, dan tes
Data yang dihimpun di antaranya data pribadi, keluarga, sosial, budaya, agama, status ekonomi, prestasi, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, ketahanmalangan, ketekunan, kerjainan, dan sebagainya.
b. Layanan Informasi
Layanan informasi merupakan layanan member informasi yang dibutuhkan oleh individu. Tujuan layanan ini adalah agar individu memiliki pengetahuan (informasi) yang memadai, baik tentang dirinya maupun tentang lingkungannya, lingkungan perguruan tinggi, masyarakat, serta sumber-sumber belajar termasuk internet. Informasi yang diperoleh individu sangat diperlukan agar individu lebih mudah dalam membuat perencanaan dan mengambil keputusan.
c. Layanan Penempatan
Layanan p enempatan merupakan layanan untuk mebantu individu dala meperoleh tempat bagi pengembangan potensi yang dimilikinya. Tujuan layanan ini adalah agar setiap individu dapat megnembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Setia individu diharapkan menempati kelompok, jurusan, program studi, serta saluran kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan segala kemampuan pribadinya.
d. Layanan Konseling
Layanan konseling merupakan layanan untuk membantu individu menyelesaikan masalah-maslah, terutama maslah sosial-pribadi yang mereka hadapi. Layanan konseling ini dilakukan melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli. Konselor memfasilitasi lingkungan psikologis konseli sehingga konseli dapat mengembangkan potensinya sebaik mungkin dan mampu mengatasi maslah yang dihadapinya sebaik mungkin.
e. Layanan Referal
Layanan referral merupakan layanan untuk melimpahkan maslah yang dihadapi individu kepada pihak lain yang lebih m ampu dan berwenang apabila maslah yang ditangani pembimbing di luar kemampuan dan kewenangan personal pemberi bantuan yang ada.
f. Layanan Evaluasi dan TIndak Lanjut
Untuk menilai pelaksanaan dan keberhasilan layanan bimbingan yang diberikan, diadkan evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut diadakan upaya-upaya tindak lanjut untuk menyempurnakannya.
Layanan evaluasi ini menyangkut evaluasi proses ataupun evaluasi hasil pelaksanaan bimbingan. Evaluasi proses menilai sejauh mana keterlaksanaan program bimbingan dan konseling itu didukung atau tidak oleh komponen-komponen yang terkait dengan sumber pelaksana, biaya, fasilitas, dan manajemen.
C. Ragam Pendekatan Bimbingan
Dilihat dari pendekatannya, bimbingan dibedakan atas empat pendekatan yaitu; (1) Pendekatan krisis; (2) Pendekatan remedial; (3) pendekatan preventif; dan (4) pendekatan perkembangan.
1. Pendekatan Krisis
Pendekatan krisi disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisi atau masalah. Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisi atau maslah=-maslah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing menunggu individu yang dating. Selanjutnya, mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan individu.
2. Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuan bimbingan ini adala untuk memantu memperbaiki kekurangan/ kelemahan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan-kelemahan individu dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
3. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada antisipasi maslah-masalah umum individu, mencegah jangan sampai masalah tersebut menimpa indivd\idu. Pembimbing memberikan bebrapa upaya, seperti informasi dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
4. Pendekatan perkembangan.
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Dalam pendekatan ini, layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui layanan pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, serta penyaluran bakat dan minat.
D. Ragam Teknik Bimbingan
Ada beberapa macam teknik bimbingan yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan individu, yaitu konseling, nasihat, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mengajar bernuasnsa bimbingan.
1. Konseling
Konseling m erupakan bantuan yang bersifat terapeutik yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku individu. Konseling dilaksanakan melalui wawncara (konseling) langsung dengan individu. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, bukan yang mengalami kesulitan kejiwaan, melainkan hanya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam pendidikan, pekerjaan, dan k ehidupan sosial.
Dalam konseling berisi proses belajar yang ditujukan agar konseli (individu) dapat mengenal diri, menerima, mengarahkan, dan menyesuaikan diri secara realistis dalam kehidupannya di kampus ataupun luar kampus. Dalam konseling tercipta hubungan pribadi yang unik dan khas dengan hubungan tersebut individu diarahkan agar dapat membuat keputusan, pemilihan, dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperan lebih baik di lingkungannya.
2. Nasihat
Nasihat merupakan salah satu teknik bimbingan yang dapat diberikan oleh konslor ataupun pembimbing. Pemberian nasihat hendaknya memerhatikan hal-hal sebagi berikut.
a. Berdasarkan masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh klien (individu),
b. Diawali dengan menghimun data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi,
c. Nasihat yang diberikan bersifat alternative yang dapat dipilih oleh individu, disertai kemungkinan keberhasilan dan kegagalan.
d. Hendaknya, individu mau dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya.
3. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas maslaah-maslah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.
Bimbingan kelompok dilaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kecil (2 – 6 orang), kelompok sedang (7 – 12 orang), dan kelompok besar (13 – 20 orang) atau kelas (20-40 orang). Pemberian informasi dalam bimbingan kelompok terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang kenyataan, aturan-aturan dalam kehidupan, dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan tugas, serta meraih masa depan dalam studi, karier, ataupun kehidupan. Aktivitas kelompok diarahkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman lingkungan, penyesuaian diri, serta pengembangan diri.
4. Konseling kelompok
Konseling kelopok merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian k emudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti, bahwa individu yang bersangkutan mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secar wajar dalam masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelehaman dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat member k emudahan bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti member kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap dan perilakunya selaras dengan lingkungannya.
Individu dalam konseling kelompok pada dasarnya adalah individu normal yang memiliki berbagai kepedulian dan kemampuan, serta persoalan yang dihadapi bukanlah gangguan kejiwaan yang tergolong sakit, hanya kekeliruan dalam penyesuaian diri.
5. Mengajar bernuansa bimbingan
Bimbingan waktu mengajar yang dapat dilakukan oleh dosen berupa menjelaskan tujuan dan manfaat perkuliahan, cara belajar, mata kuliah yang diberikan, dorongan untuk berprestasi, membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu, penyelesaian tugas, merencanakan asa depan, memberikan fasilitas belajar, member kesempatan untuk berprestasi, dan lain-lain.
Secara umum, bimbingan yang dapat diberikan guru/dosen sambil mengajar adalah (1) mengenal dan memahami individu secara mendalam; (2) memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual; (3) memperlakukan individu secara manusiawi; (4) member kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal; dan (5) menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan prinsip-prinsip/bernuansa bimbingan tampak sebgai berikut.
a. Tercipta iklim kelas yang permisif, bebas dari keegagan dan menemakan individu sebagai subjek pengajaran.
b. Adanya arahan/orientasi agar terselenggaranya bealjar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhan perkuliahan.
c. Menerima dan memperlakukan individu sebagi individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya.
d. Mempersiapkan serta menyelenggarakan perkuliahan sesuai denga kebutuhan dan kemampuan individu.
e. Membina hubungan yang dekat dengan individu, menerima individu yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan.
E.
Strategi dan Intervensi Konseling
A. Konseling sebagai profesi bantuan
Konseling adalah bantuan. Profesi bantuan ini terdiri atas profesional. Tiap-tiap profesional menyesuaikan kebutuhan khusus pribadi atau masyarakat. Beberapa profesi bantuan diidentifikasikan sebagai profesional bantuan, seperti psikieater, psikolog, konselor profesional, ahli terapi keluarga dan perkawinan, serta pekerja sosial.
Proses bantuan ini mempunyai beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah kondisi-kondisi yangf mendasari bantuan. Dimensi kedua adalah prakondisi yang mengarahkan seseorang pribadi (klien) mencari bantuan dan pribadi yang lain (konselor) memberikan bantuan. Dimensi ketiga adalah hasil dari interaksi diantara dua orang pribadi.
Karaketristik-karakteristik klien meliputi :
1. Ketrampilan-ketrampilan pengushaan.
2. Kemampuan-kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Konsep diri
4. Temperamen.
5. Pengalaman-pengalaman interpersonal.
Orang yang memberikan bantuan meliputi :
1. Psikiater
2. Psikolog
3. Pekerja sosial
4. Ulama
5. Pendeta nasrani
6. Pendeta yahudi
Konselor di sekolah meliputi :
1. Sekolah dasar
2. Sekolah menengah
3. Sekolah atas
Konselor sekolah dasar banyak memfokuskan pada kegiatan kerjasama dengan staf pengajar untuk menciptakan lingkungan psikologis yang sehat utnk anak-anak di sekolah. Konselor menengah banyak menghabsikan waktunya dengan anak-anak, baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan konselor sekolah atas banyak memfokuskan pada perencanaan karier dan studi di perguruan tinggi, maslah hubungan pribadi, masalah keluarga, dan masalah identitas pribadi.
Konseling yang dilakukan konselor di perguruan tinggi antara lain :
1. Konseling karier
2. Konseling penyesuaian pribadi
3. Konseling krisis
4. Konseling penyalahgunaan obat
Konseling dalam setting masyarakat biasanya dilakukan oleh pekerja sosial atau konselor kesehatan mental. Masalah yang ditangani sebagian besar perkenaan dengan kesehatan mental. Klien yang ditangani meliputi :
1. Anak-anak
2. Remaja
3. Orang tua
4. Pasangan suami istri
5. Keluarga
Konseling dalam setting agama, biasanya dilakukan oleh konselor agama. Mereka berkeyakinan, bahwa masalah-masalah manusia arus ditelaah dalam konteks keyakinan dan nilai agama.
Konseling profesional memiliki empat unsur, yaitu :
1. Kualitas-kualitas pribadi konselor
2. Ketrampilan-ketrampilan antar pribadi yang dimiliki konselor
3. Ketrampilan-ketrampilan membedakan dan konseptualisasiyang dimiliki konselor
4. Ketrampilan-ketrampilan intervensi yang dimiliki konselor
Konselor profesional itu biasanya dididik oleh program-program pendidikan tertinggi seingkat master. Mereka melakukan program-program pelatihan dan diperkenalkan dengan berbagai profesi bantuan, setting bantuan, populasi, dan etika profesional.
B. Hubungan Bantuan ( Konseling)
Keberhasilan dalam konseling banyak ditentukan oleh kualitas hubungan. Rogers mengatakan, bahwa dalam hubungan bantuan terdapat kondisi-kondisi penting untuk terjadinya perubahan kepribadian yang positif. Kondisi-kondisi tersebut mengarah pada karaktersitik hubungan antar pribadi yang konstruktif. Kondisi-kondisi tersebut yaitu :
1. Empeti Yang tepat
2. Pengahrgaan positif tanpa syarat
3. Keaslian
Pengungkapan diri mengenai perasaan, ide, pemikiran, dan pengalaman konselor agar klien memahami bahwa konselor juga manusia, tidak saja berperan sebagai konselor. Pengungkapan diri ini hendaknya dilakukan secara tepat. Terdapat beberapa jenis pengkupan diri, yaitu :
1. Pengungkapan diri tentang masalah-masalah konselor diri.
2. Pengungkapan diri tentang fakta-fakta peran konselor
3. Pengungkapan diri tentang reaksi-reaksi diri terhadap klien.
4. Pengungkapan diri tentanf reaksi-reaksi konselor terhadap hubungan antara konselor dan klien.
Hendaknya, konselor menjadi pribadi yang intensional atau pribadi yang berfungsi penuh, yakni mempunyai kemampuan, mampu mengahsilkan alternatif perilaku-perilaku bantuan dalam berbagai situasi, mempunyai beberapa alternatif cara bantuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien pada saat sekarang, dan mampu mengembangkan tujuan-tujuan konseling.
C. Attending terhadap Klien
Konselor harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlakukan dalam proses konseling. Salah satu ketrampilan itu adalah attending. Attending terhadap klien adalah kemampuan mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian terhadap klien. Ketrampilan attending ini berupa perilaku verbal maupun nonverbal yang tepat secara budaya yang berfungsi melibatkan klien dalam proses konseling.
Perhatian tiu dikomunikasikan terutama melalui tiga saluran, yaitu :
1. Ekspresi muka
2. Posisi dan gerakan tubuh
3. Responsi verbal
Cara-cara komunikasi tersebut merupakan tanda untuk klien mengenai tingkat penerimaan, persetujuan, penolakan, atau pengabaian yang dihubungkan dengan perilaku penguatan .
Bahasa badan muka ini meliputi :
1) Kontak mata
2) Anggukan kepala
3) Animasi.
Kontak mata yang baik lebih memudahkan komunikasi antara klien dan konselor. Anggukan kepala menunjukan kepada klien bahwa konselor sedang mendengarkan dan memperhatikan. Animasi adalah manipulasi otot wajah untuk menghasilkan senyum, kerutan dahi, pengabaian dan sebagainya. Animasi dalam ekspresi muka ini memberikan kesan kepada klien bahwa konselor itu merespons terhadap komunikasi yang berjalan.
D. Pemahaman Pola-Pola Komunikasi
Ada beberapa pola komunikasi dalam proses konseling. Sebagian mengambil pada komunikasi bentuk ritual, sementara yang lain mengambil pola komunikasi responsif atau interaktif. Bagi konselor pemula, kondisi diam dapat menjadikan ketakutan. Konselor bertanggung jawab agar klien mau berbicara. Konselor dapat menggunakan diam itu sebagai teknik konseling dan sebagai cara untuk merespons terhadap klien. Dalam diam inilah klien mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam konseling ke dalam sistem yang ada pada dirinya.
E. Pengelolaan Kegiatan Konseling
Wawancara pertama dengan klien mempunyai dinamika khusus. Wawancara pertama ini merupakan awal dari potensi hubungan yang signifikan. Dalam wawancara pertama ini harapan, kekhawatiran dan keberatan, kesadaran dan ketidaksadaran semunya berpengaruh pada kegiatan konseling. Menghadapi kondisi seperti ini, konselor memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu konselor bekerja dengan dinamika hubungan yang ada atau menciptakan kegiatan awal ini dengan wawancara yang menghasilkan dan mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang klien. Jika konselor memfokuskan pada dinamika antarpribadai pada wawancara pertama, maka dalam wawancara kedua dan ketiga, konselor harus mengumpulkan informasi. Apabila konselor menggunakan kegiatan wawancara awal ini untuk menghasilkan informasi, maka selanjutnya harus memulai untuk memahami dinamika hubungan.
Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan konseling awal ini, yaitu :
1. Mengurangi kecemasan klien
2. Menahan diri untuk tidak berbicara terlalu banyak
3. Mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan klien dan berusaha utuk menata kembali kata-kata yang dijelaskan oleh klien
4. Menyadari bahwa yang dipilih klien itu merupakan topik utama untuk saat ini.
Dalam membuka wawancara, konselor secara singkat memperkenalkan diri disertai dengan senyum dan mempersilahka klien untuk mengambil tempat duduk. Setelah memperkenalkan diri, konselor memberikan kesempatan pada klien untuk berbicara atau koselor memberikan informasi kepada klien tentang sruktur konseling yang meliputi sifat, batas-batas, peran-peran, dan tujuan-tujuan dalam hubungan konseling.
Konselor pemula sering tidak yakin kapan mengakhiri wawancara, mereka merasa siap untuk mengakhiriranpa memikirkan apakah klien sudah siap atau belum. Benjamin mengidentifikasikan dua faktor dasar untuk menutup proses wawancara, yaitu :
1. Konselor dan klien menyadari bahwa wawancara sudah saatnya ditutup.
2. Penghentian wawancara itu dikaitkan dengan kesiapan untuk melaksanakannya, selanjutnya tidak ada materi baru yang dikemukakan atau didiskusikan pada fase wawancara. Apabila klien tiba-tiba mengemukakan topik baru pada saat wawancara berakhir, maka konselor lebih baik menganjurkan pembahasan materi baru itu dilakukan pada wawancara berikutnya manakala mempunyai waktu banyak.
Hubungan konseler itu berakhir apabiala :
1. Kontrak konseling berakhir
2. Tujuan klien tercapai
3. Hubungan konseling tampak tidak bermanfaat
4. Kondisi-kondisi kontekstual berubah, contohnya lokasi klien atau konselor berubah.
F. Responding terhadap Isi Kognitif
Respon konselor terhadap klien dapat berupa respons verbal dan nonverbal. Oleh sebab itu konselor harus mampu merespons secara tepat isi kognitif yang dikemukakan oleh klien. Tugas konselor adalah mngidentifikasi secara tepat jenis-jenis isi yang dikemukakan oleh klien dan mengidentifikasi alternatif-alternatif respons yang dapat dilakukan.
Jenis respons yang dapat digunakan dari stimulus yang menghasilkan isi kognitif adalah :
1. Diam
2. Meminimalkan aktifitas verbal seperti kata-kata oh, mmm, ya, dan sebagainya
3. Menyatakan kembali seluruh atau sebagian apa yang dikomunikasikan klien
4. Melakukan probing, yaitu bertanya yang memerlukan jawaban lebih dari satu kata jawaban dari klien.
G. Responding terhadap Isi Afektif
Klien menggunakan seluruh car-cara verbal dan nonverbal untuk menyatakan masalh pada konselor. Emosi-emosi yang menyertai pertanyaannya menghiasi dan menggubah pesan. Isyarat-isyarat ini tidak selalu mudah dibaca.
Komunikasi-komunikasi yang mencerminkan perasaaan-perasaan itu dapat digambarkan sebagai afektif. Banyak pesan yang berisi kognitif dan afektirf. Apabila itu terjadai, pesan afektif itu mungkin tidak tampak dalm kata-kata klien, tetapi dapat dinyatakan melalui cara-cara nonverbal, seperti suara yang memuncak, kecepatan berbicara, posisi-posisi tubuh , dan bahasa badan.
Perasaan itu dapat kita idrntifikasi dalam empat bidang :
1. Kasih sayang
2. Kemarahan
3. Kekhawatiran
4. Kesedihan.
Perasaan-perasaan kasih sayang mencerminkan positif atau perasaan-perasaan baik tentang diri seseorang atau orang lain, dan menunjukkan perasaan-persaan positif tentang hubungan-hubungan antar pribadi. Perasaan positif ini dapat diklafikasikan kedalam lima bidang:
1. Kesenangan
2. Kemampuan
3. Kecintaan
4. Kebahagiaan
5. Harapan
Sedangkan kemarahan sering mencerminkan perasaan-perasan megatif tentang diri seseorang atau orang lain. Kemarahan dapat diklafikasikan kedalam empat kategori umum, yaitu :
1. Penyerangan
2. Keseraman
3. Pertahanan
4. Perselisihan
H. Membedakan Pesan Kognitif dan Afektif
Terdapat beberapa respons konselor yang bermanfaat untuk membedakan pesan kognitif atau afektif klien. Respons-respons tersebut yaitu :
1. Penekanan
2. Respons bahwa klien itu berpotensial
3. Konfrontasi
Respons konselor terhadap isi afektif itu penting, yaitu sebagai alat untuk mengurangi kecemasan klien yang selamaini terpelihara. Respons konselor terhadap isi kognitif membantu klien dalam mengembangkan dan mengekspresikan proses-proses pemikiran dalam menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.
I. Konseptualisasi (Perumusan) Masalah dan Penyusunan tujuan
Konseptualisasinmasalah ini meliputi :
1. Mengenal kebutuhan klien
2. Memahami kebutuhan klien
3. Memenuhi kebutuhan klien
Jourard mengonseptualisasikan kebutuhan ini dengan cara yang berguna untuk konseling, yaitu :
1. Kebutuhan untuk kelangsungan hidup
2. Kebutuhan fisik
3. Kebutuhan cinta dan seks
4. Kebutuhan status, sukses, dan harga diri
5. Kebutuhan kesehatan mental dan fisik
6. kebutuhan bebas
7. kebutuhan menantang
8. kebutuhan kejelasan kognitif.
Proses konseling melibatkan dua jenis tujuan yaitu : tujuan proses dan tujuan hasil akhir. Tujuan itu dikaitkan dengan menciptakan suasana-suasana yang penting untuk perubahan klien, seperti menciptakan hubungan baik.
Ada tiga unsur tujuan hasil akhir yang baik, yaitu :
1. perilaku yang diubah
2. kondisi yang mendasari perubahan
3. tingkat atau jumlah perubahan
J. Penyeleksian Strategi dan Intervensi
Dalam proses konseling, konselor harus mampu menilai perilaku dan pengaruhnya terhadap klien. Konselor harus mampu menciptakan suasana hubungan yang memudahkan.strategi-strategi ini merupakan rencana-rencana kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan khusus konseling.
Konselor yang berpengalaman sering mendiskusikan penggunaan strategi ini bersama klien dengan maksud untuk memunculkan reaksi klien serta mengundang kerja sama klien dalam intervensi. Dalam mengevaluasi strategi, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1. untuk apa evaluasi
2. siapa yang mengevaluasi
3. bagaimana cara mengevaluasi.
K. Penggunaan Intervensi-intervensi Konseling
Strategi-strategi atau intervensi-intervensi yang akan dijelaskan, yaitu :
1. strategi model sosial
2. strategi bermain peran dan latihan
3. strategi perubahan kognitif
4. strategi pengelolaan diri
strategi bermain peran dan latihan dapat meningkatkan perubahan perilaku melalui simulasi atau dalam pembentukan respon-respon yang diinginkan. Unsur-unsur umum dalam aplikasi strategi bermain peran dan latihan, yaitu :
1. pembentukan kembali diri seseorang, orang lain, suatu peristiwa, atau sejumlah respon oleh klien.
2. Menggunakan saat sekarang atau disini dan sekarang untuk mengadakan pembentukan kembali.
3. Umpan balik untuk klien dari konselor atau seorang asisten.
Karateristik utama strategi pengelolaan diri adalah bahwa klien mengatur strategi dan mengarahkan upaya-upaya perubahan dengan bantuan yang sedikit dari konselor. Strategi pengelolaan diri itu sangat berguna dalam kaitannya dengan sejumlah masalah klien. Tiga dari strategi pengelolaan diri yang paling berguna antara lain :
1. Pantau diri
2. Ganjar diri
3. Kontrak diri
Penelitian menunjukkan, bahwa akibat-akibat yag dihasilkan oleh pantau diri dapat lebih meningkatkan dan lebih mantap apabila pantau diri disertai dengan strategi terapeutik lain, seperti ganjar diri, hukum diri, dan kontrak diri.
L. Penerimaan dan Penggunaan Supervisi
Untuk memahami supervisi, kita perlu mengetahui apa yang terjadi dalam supervisi, siapa yang terjadi dalam supervisi, siapa yang memberikan supervisi, dan dalam konteks apa supervisi itu terjadi.
Yang menjadi fokus supervisi, yaitu :
1. Ketrampilan-ketrampilan proses konseling
2. Ketrampilan-ketrampilan kosnseptualisasi (perumusan) masalah
3. Ketrampilan-ketrampilan personalisasi
4. Ketrampilan-ketrampilan profesional.
Konseling adalah bantuan. Profesi bantuan ini terdiri atas profesional. Tiap-tiap profesional menyesuaikan kebutuhan khusus pribadi atau masyarakat. Beberapa profesi bantuan diidentifikasikan sebagai profesional bantuan, seperti psikieater, psikolog, konselor profesional, ahli terapi keluarga dan perkawinan, serta pekerja sosial.
Proses bantuan ini mempunyai beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah kondisi-kondisi yangf mendasari bantuan. Dimensi kedua adalah prakondisi yang mengarahkan seseorang pribadi (klien) mencari bantuan dan pribadi yang lain (konselor) memberikan bantuan. Dimensi ketiga adalah hasil dari interaksi diantara dua orang pribadi.
Karaketristik-karakteristik klien meliputi :
1. Ketrampilan-ketrampilan pengushaan.
2. Kemampuan-kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Konsep diri
4. Temperamen.
5. Pengalaman-pengalaman interpersonal.
Orang yang memberikan bantuan meliputi :
1. Psikiater
2. Psikolog
3. Pekerja sosial
4. Ulama
5. Pendeta nasrani
6. Pendeta yahudi
Konselor di sekolah meliputi :
1. Sekolah dasar
2. Sekolah menengah
3. Sekolah atas
Konselor sekolah dasar banyak memfokuskan pada kegiatan kerjasama dengan staf pengajar untuk menciptakan lingkungan psikologis yang sehat utnk anak-anak di sekolah. Konselor menengah banyak menghabsikan waktunya dengan anak-anak, baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan konselor sekolah atas banyak memfokuskan pada perencanaan karier dan studi di perguruan tinggi, maslah hubungan pribadi, masalah keluarga, dan masalah identitas pribadi.
Konseling yang dilakukan konselor di perguruan tinggi antara lain :
1. Konseling karier
2. Konseling penyesuaian pribadi
3. Konseling krisis
4. Konseling penyalahgunaan obat
Konseling dalam setting masyarakat biasanya dilakukan oleh pekerja sosial atau konselor kesehatan mental. Masalah yang ditangani sebagian besar perkenaan dengan kesehatan mental. Klien yang ditangani meliputi :
1. Anak-anak
2. Remaja
3. Orang tua
4. Pasangan suami istri
5. Keluarga
Konseling dalam setting agama, biasanya dilakukan oleh konselor agama. Mereka berkeyakinan, bahwa masalah-masalah manusia arus ditelaah dalam konteks keyakinan dan nilai agama.
Konseling profesional memiliki empat unsur, yaitu :
1. Kualitas-kualitas pribadi konselor
2. Ketrampilan-ketrampilan antar pribadi yang dimiliki konselor
3. Ketrampilan-ketrampilan membedakan dan konseptualisasiyang dimiliki konselor
4. Ketrampilan-ketrampilan intervensi yang dimiliki konselor
Konselor profesional itu biasanya dididik oleh program-program pendidikan tertinggi seingkat master. Mereka melakukan program-program pelatihan dan diperkenalkan dengan berbagai profesi bantuan, setting bantuan, populasi, dan etika profesional.
B. Hubungan Bantuan ( Konseling)
Keberhasilan dalam konseling banyak ditentukan oleh kualitas hubungan. Rogers mengatakan, bahwa dalam hubungan bantuan terdapat kondisi-kondisi penting untuk terjadinya perubahan kepribadian yang positif. Kondisi-kondisi tersebut mengarah pada karaktersitik hubungan antar pribadi yang konstruktif. Kondisi-kondisi tersebut yaitu :
1. Empeti Yang tepat
2. Pengahrgaan positif tanpa syarat
3. Keaslian
Pengungkapan diri mengenai perasaan, ide, pemikiran, dan pengalaman konselor agar klien memahami bahwa konselor juga manusia, tidak saja berperan sebagai konselor. Pengungkapan diri ini hendaknya dilakukan secara tepat. Terdapat beberapa jenis pengkupan diri, yaitu :
1. Pengungkapan diri tentang masalah-masalah konselor diri.
2. Pengungkapan diri tentang fakta-fakta peran konselor
3. Pengungkapan diri tentang reaksi-reaksi diri terhadap klien.
4. Pengungkapan diri tentanf reaksi-reaksi konselor terhadap hubungan antara konselor dan klien.
Hendaknya, konselor menjadi pribadi yang intensional atau pribadi yang berfungsi penuh, yakni mempunyai kemampuan, mampu mengahsilkan alternatif perilaku-perilaku bantuan dalam berbagai situasi, mempunyai beberapa alternatif cara bantuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien pada saat sekarang, dan mampu mengembangkan tujuan-tujuan konseling.
C. Attending terhadap Klien
Konselor harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlakukan dalam proses konseling. Salah satu ketrampilan itu adalah attending. Attending terhadap klien adalah kemampuan mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian terhadap klien. Ketrampilan attending ini berupa perilaku verbal maupun nonverbal yang tepat secara budaya yang berfungsi melibatkan klien dalam proses konseling.
Perhatian tiu dikomunikasikan terutama melalui tiga saluran, yaitu :
1. Ekspresi muka
2. Posisi dan gerakan tubuh
3. Responsi verbal
Cara-cara komunikasi tersebut merupakan tanda untuk klien mengenai tingkat penerimaan, persetujuan, penolakan, atau pengabaian yang dihubungkan dengan perilaku penguatan .
Bahasa badan muka ini meliputi :
1) Kontak mata
2) Anggukan kepala
3) Animasi.
Kontak mata yang baik lebih memudahkan komunikasi antara klien dan konselor. Anggukan kepala menunjukan kepada klien bahwa konselor sedang mendengarkan dan memperhatikan. Animasi adalah manipulasi otot wajah untuk menghasilkan senyum, kerutan dahi, pengabaian dan sebagainya. Animasi dalam ekspresi muka ini memberikan kesan kepada klien bahwa konselor itu merespons terhadap komunikasi yang berjalan.
D. Pemahaman Pola-Pola Komunikasi
Ada beberapa pola komunikasi dalam proses konseling. Sebagian mengambil pada komunikasi bentuk ritual, sementara yang lain mengambil pola komunikasi responsif atau interaktif. Bagi konselor pemula, kondisi diam dapat menjadikan ketakutan. Konselor bertanggung jawab agar klien mau berbicara. Konselor dapat menggunakan diam itu sebagai teknik konseling dan sebagai cara untuk merespons terhadap klien. Dalam diam inilah klien mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam konseling ke dalam sistem yang ada pada dirinya.
E. Pengelolaan Kegiatan Konseling
Wawancara pertama dengan klien mempunyai dinamika khusus. Wawancara pertama ini merupakan awal dari potensi hubungan yang signifikan. Dalam wawancara pertama ini harapan, kekhawatiran dan keberatan, kesadaran dan ketidaksadaran semunya berpengaruh pada kegiatan konseling. Menghadapi kondisi seperti ini, konselor memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu konselor bekerja dengan dinamika hubungan yang ada atau menciptakan kegiatan awal ini dengan wawancara yang menghasilkan dan mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang klien. Jika konselor memfokuskan pada dinamika antarpribadai pada wawancara pertama, maka dalam wawancara kedua dan ketiga, konselor harus mengumpulkan informasi. Apabila konselor menggunakan kegiatan wawancara awal ini untuk menghasilkan informasi, maka selanjutnya harus memulai untuk memahami dinamika hubungan.
Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan konseling awal ini, yaitu :
1. Mengurangi kecemasan klien
2. Menahan diri untuk tidak berbicara terlalu banyak
3. Mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan klien dan berusaha utuk menata kembali kata-kata yang dijelaskan oleh klien
4. Menyadari bahwa yang dipilih klien itu merupakan topik utama untuk saat ini.
Dalam membuka wawancara, konselor secara singkat memperkenalkan diri disertai dengan senyum dan mempersilahka klien untuk mengambil tempat duduk. Setelah memperkenalkan diri, konselor memberikan kesempatan pada klien untuk berbicara atau koselor memberikan informasi kepada klien tentang sruktur konseling yang meliputi sifat, batas-batas, peran-peran, dan tujuan-tujuan dalam hubungan konseling.
Konselor pemula sering tidak yakin kapan mengakhiri wawancara, mereka merasa siap untuk mengakhiriranpa memikirkan apakah klien sudah siap atau belum. Benjamin mengidentifikasikan dua faktor dasar untuk menutup proses wawancara, yaitu :
1. Konselor dan klien menyadari bahwa wawancara sudah saatnya ditutup.
2. Penghentian wawancara itu dikaitkan dengan kesiapan untuk melaksanakannya, selanjutnya tidak ada materi baru yang dikemukakan atau didiskusikan pada fase wawancara. Apabila klien tiba-tiba mengemukakan topik baru pada saat wawancara berakhir, maka konselor lebih baik menganjurkan pembahasan materi baru itu dilakukan pada wawancara berikutnya manakala mempunyai waktu banyak.
Hubungan konseler itu berakhir apabiala :
1. Kontrak konseling berakhir
2. Tujuan klien tercapai
3. Hubungan konseling tampak tidak bermanfaat
4. Kondisi-kondisi kontekstual berubah, contohnya lokasi klien atau konselor berubah.
F. Responding terhadap Isi Kognitif
Respon konselor terhadap klien dapat berupa respons verbal dan nonverbal. Oleh sebab itu konselor harus mampu merespons secara tepat isi kognitif yang dikemukakan oleh klien. Tugas konselor adalah mngidentifikasi secara tepat jenis-jenis isi yang dikemukakan oleh klien dan mengidentifikasi alternatif-alternatif respons yang dapat dilakukan.
Jenis respons yang dapat digunakan dari stimulus yang menghasilkan isi kognitif adalah :
1. Diam
2. Meminimalkan aktifitas verbal seperti kata-kata oh, mmm, ya, dan sebagainya
3. Menyatakan kembali seluruh atau sebagian apa yang dikomunikasikan klien
4. Melakukan probing, yaitu bertanya yang memerlukan jawaban lebih dari satu kata jawaban dari klien.
G. Responding terhadap Isi Afektif
Klien menggunakan seluruh car-cara verbal dan nonverbal untuk menyatakan masalh pada konselor. Emosi-emosi yang menyertai pertanyaannya menghiasi dan menggubah pesan. Isyarat-isyarat ini tidak selalu mudah dibaca.
Komunikasi-komunikasi yang mencerminkan perasaaan-perasaan itu dapat digambarkan sebagai afektif. Banyak pesan yang berisi kognitif dan afektirf. Apabila itu terjadai, pesan afektif itu mungkin tidak tampak dalm kata-kata klien, tetapi dapat dinyatakan melalui cara-cara nonverbal, seperti suara yang memuncak, kecepatan berbicara, posisi-posisi tubuh , dan bahasa badan.
Perasaan itu dapat kita idrntifikasi dalam empat bidang :
1. Kasih sayang
2. Kemarahan
3. Kekhawatiran
4. Kesedihan.
Perasaan-perasaan kasih sayang mencerminkan positif atau perasaan-perasaan baik tentang diri seseorang atau orang lain, dan menunjukkan perasaan-persaan positif tentang hubungan-hubungan antar pribadi. Perasaan positif ini dapat diklafikasikan kedalam lima bidang:
1. Kesenangan
2. Kemampuan
3. Kecintaan
4. Kebahagiaan
5. Harapan
Sedangkan kemarahan sering mencerminkan perasaan-perasan megatif tentang diri seseorang atau orang lain. Kemarahan dapat diklafikasikan kedalam empat kategori umum, yaitu :
1. Penyerangan
2. Keseraman
3. Pertahanan
4. Perselisihan
H. Membedakan Pesan Kognitif dan Afektif
Terdapat beberapa respons konselor yang bermanfaat untuk membedakan pesan kognitif atau afektif klien. Respons-respons tersebut yaitu :
1. Penekanan
2. Respons bahwa klien itu berpotensial
3. Konfrontasi
Respons konselor terhadap isi afektif itu penting, yaitu sebagai alat untuk mengurangi kecemasan klien yang selamaini terpelihara. Respons konselor terhadap isi kognitif membantu klien dalam mengembangkan dan mengekspresikan proses-proses pemikiran dalam menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.
I. Konseptualisasi (Perumusan) Masalah dan Penyusunan tujuan
Konseptualisasinmasalah ini meliputi :
1. Mengenal kebutuhan klien
2. Memahami kebutuhan klien
3. Memenuhi kebutuhan klien
Jourard mengonseptualisasikan kebutuhan ini dengan cara yang berguna untuk konseling, yaitu :
1. Kebutuhan untuk kelangsungan hidup
2. Kebutuhan fisik
3. Kebutuhan cinta dan seks
4. Kebutuhan status, sukses, dan harga diri
5. Kebutuhan kesehatan mental dan fisik
6. kebutuhan bebas
7. kebutuhan menantang
8. kebutuhan kejelasan kognitif.
Proses konseling melibatkan dua jenis tujuan yaitu : tujuan proses dan tujuan hasil akhir. Tujuan itu dikaitkan dengan menciptakan suasana-suasana yang penting untuk perubahan klien, seperti menciptakan hubungan baik.
Ada tiga unsur tujuan hasil akhir yang baik, yaitu :
1. perilaku yang diubah
2. kondisi yang mendasari perubahan
3. tingkat atau jumlah perubahan
J. Penyeleksian Strategi dan Intervensi
Dalam proses konseling, konselor harus mampu menilai perilaku dan pengaruhnya terhadap klien. Konselor harus mampu menciptakan suasana hubungan yang memudahkan.strategi-strategi ini merupakan rencana-rencana kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan khusus konseling.
Konselor yang berpengalaman sering mendiskusikan penggunaan strategi ini bersama klien dengan maksud untuk memunculkan reaksi klien serta mengundang kerja sama klien dalam intervensi. Dalam mengevaluasi strategi, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1. untuk apa evaluasi
2. siapa yang mengevaluasi
3. bagaimana cara mengevaluasi.
K. Penggunaan Intervensi-intervensi Konseling
Strategi-strategi atau intervensi-intervensi yang akan dijelaskan, yaitu :
1. strategi model sosial
2. strategi bermain peran dan latihan
3. strategi perubahan kognitif
4. strategi pengelolaan diri
strategi bermain peran dan latihan dapat meningkatkan perubahan perilaku melalui simulasi atau dalam pembentukan respon-respon yang diinginkan. Unsur-unsur umum dalam aplikasi strategi bermain peran dan latihan, yaitu :
1. pembentukan kembali diri seseorang, orang lain, suatu peristiwa, atau sejumlah respon oleh klien.
2. Menggunakan saat sekarang atau disini dan sekarang untuk mengadakan pembentukan kembali.
3. Umpan balik untuk klien dari konselor atau seorang asisten.
Karateristik utama strategi pengelolaan diri adalah bahwa klien mengatur strategi dan mengarahkan upaya-upaya perubahan dengan bantuan yang sedikit dari konselor. Strategi pengelolaan diri itu sangat berguna dalam kaitannya dengan sejumlah masalah klien. Tiga dari strategi pengelolaan diri yang paling berguna antara lain :
1. Pantau diri
2. Ganjar diri
3. Kontrak diri
Penelitian menunjukkan, bahwa akibat-akibat yag dihasilkan oleh pantau diri dapat lebih meningkatkan dan lebih mantap apabila pantau diri disertai dengan strategi terapeutik lain, seperti ganjar diri, hukum diri, dan kontrak diri.
L. Penerimaan dan Penggunaan Supervisi
Untuk memahami supervisi, kita perlu mengetahui apa yang terjadi dalam supervisi, siapa yang terjadi dalam supervisi, siapa yang memberikan supervisi, dan dalam konteks apa supervisi itu terjadi.
Yang menjadi fokus supervisi, yaitu :
1. Ketrampilan-ketrampilan proses konseling
2. Ketrampilan-ketrampilan kosnseptualisasi (perumusan) masalah
3. Ketrampilan-ketrampilan personalisasi
4. Ketrampilan-ketrampilan profesional.
Kamis, 10 November 2011
RAGAM BIMBINGAN
A. Ragam Bimbingan Menurut Masalah
Dari maslaah individu ada empat jenis bimbingan, yaitu : bimbingan akademik, bimbingan sosial pribadi, bimbingan karier, dan bimbingan keluarga
1. Bimbingan Akademik
Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapidan menyelesaikan masalh-masalah akademik yang termasuk masalah-masalh akademik, yaitu pengenalan kurikulum, emilihan jurusan/cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan lanjutan dan lain-lain.
Bimbingan dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar-mengajar yang kondusif agar tehindar dari kesulitan belajar.
2. Bimbingan sosial pribadi
Bimbingan social pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah social pribadi yang termasuk maslah-aslah social pribadi adalah maslaah ubungan dengan sesame teman, dosen, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, serta penyelesaian konflik.
Bimbingan diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-keterampilan social pribadi.
3. Bimbingan karier
Bimbingan karier yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan pengembangan dan penyelesaian masalah-masalah karier, seprti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan dan penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi.
Bimbingan karier juga merupakan layanan pemenuhan kebutuhan perkembangan individu sebagai bagian integral dari program pendidikan. Bimbingan karier membantu individu mempersiapkan pekerjaan/jabatan, membantu individu pada saat bekerja, dan membantu individu setelah pensiun dari pekerjaan. Dengan layanan bimbingan karier, individu mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya sehingga mampu mewujudkan dirinya secara bermakna.
4. Bimbingan keluarga
Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara prduktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, sertaberperan/berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Bimbingan keluarga juga membantu individu yang akan berkeluarga memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sehingga individu siap menghadapi kehidupan berkeluarga.
B. Ragam Layanan Bimbingan
Dalam bimbingan dan konseling dibedakan empat jenis layanan utama, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan system.
1. Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu para individu mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan.
Contoh isi layanan dasar bimbingan untuk orang dewasa, yaitu :
a. Memiliki tanggungjawab social dan kewarganegaraan secara lebih dewasa
b. Membantu anak-anak dan pemuda khususnya anak kandungnya sendiri agar berkembang menjadi orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab
c. Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya bersama orang dewasa lain
2. Layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh individu saat ini. Isi layanan responsive adalah :
a. Bidang pendidikan, mengatasi masalah kesulitan dalam memilih pendidikan, jurusan, program studi yang cocok dengan minat, bakat dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
b. Bidang belajar, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam belajar, mengatur cara belajar, memprioritaskan pelajaran, serta strategi dan teknik belajar.
c. Dalam bidang social, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam hubungan social, kesulitan menyesuaikan dengan lingkungan keluarga, tetangga, teman, sekolah dan masyarakat.
d. Dalam bidang pribadi, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam mengatasi konflik internal pribadi, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan k esulitan dalam mengendalikan diri serta mengarahkan diri.
e. Dalam bidang karier, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam memilih pekerjaan yang cocok dengan minat, keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya.
3. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan social p ribadinya.
Isi layana perenecanaan individual adalah :
a. Bidang pendidikan dengan topik-topik belajar yang efektif, belajar memantapkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat dan karakteristik kepribadian lainnya.
b. Bidang karier dengan topik-topik mengidentifikasi kesempatan karier yang ada dilingkungan masyarakat, mengembangkan sikap positif terhadp dunia kerja dan merencanakan kedhiupan kariernya.
c. Bidang sosial-pribadi dengan topik mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman dan belajar memahami perasaan orang lain.
4. Dukungan system
Adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional; hubungan masyarakat dan staf; konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, dari masyarakat yang leih luas; manajemen program; serta penelitian dan pengembangan.
a. Layanan Pengumpulan data
Dalam layanan in, semua data tentang individu beserta latar belakangnya dibimpun dan didokumentasikan. Data dihimpun dari berbagai sumber dengan menggunakan angket. Wawancara, observasi, studi documenter, dan tes
Data yang dihimpun di antaranya data pribadi, keluarga, sosial, budaya, agama, status ekonomi, prestasi, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, ketahanmalangan, ketekunan, kerjainan, dan sebagainya.
b. Layanan Informasi
Layanan informasi merupakan layanan member informasi yang dibutuhkan oleh individu. Tujuan layanan ini adalah agar individu memiliki pengetahuan (informasi) yang memadai, baik tentang dirinya maupun tentang lingkungannya, lingkungan perguruan tinggi, masyarakat, serta sumber-sumber belajar termasuk internet. Informasi yang diperoleh individu sangat diperlukan agar individu lebih mudah dalam membuat perencanaan dan mengambil keputusan.
c. Layanan Penempatan
Layanan p enempatan merupakan layanan untuk mebantu individu dala meperoleh tempat bagi pengembangan potensi yang dimilikinya. Tujuan layanan ini adalah agar setiap individu dapat megnembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Setia individu diharapkan menempati kelompok, jurusan, program studi, serta saluran kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan segala kemampuan pribadinya.
d. Layanan Konseling
Layanan konseling merupakan layanan untuk membantu individu menyelesaikan masalah-maslah, terutama maslah sosial-pribadi yang mereka hadapi. Layanan konseling ini dilakukan melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli. Konselor memfasilitasi lingkungan psikologis konseli sehingga konseli dapat mengembangkan potensinya sebaik mungkin dan mampu mengatasi maslah yang dihadapinya sebaik mungkin.
e. Layanan Referal
Layanan referral merupakan layanan untuk melimpahkan maslah yang dihadapi individu kepada pihak lain yang lebih m ampu dan berwenang apabila maslah yang ditangani pembimbing di luar kemampuan dan kewenangan personal pemberi bantuan yang ada.
f. Layanan Evaluasi dan TIndak Lanjut
Untuk menilai pelaksanaan dan keberhasilan layanan bimbingan yang diberikan, diadkan evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut diadakan upaya-upaya tindak lanjut untuk menyempurnakannya.
Layanan evaluasi ini menyangkut evaluasi proses ataupun evaluasi hasil pelaksanaan bimbingan. Evaluasi proses menilai sejauh mana keterlaksanaan program bimbingan dan konseling itu didukung atau tidak oleh komponen-komponen yang terkait dengan sumber pelaksana, biaya, fasilitas, dan manajemen.
C. Ragam Pendekatan Bimbingan
Dilihat dari pendekatannya, bimbingan dibedakan atas empat pendekatan yaitu; (1) Pendekatan krisis; (2) Pendekatan remedial; (3) pendekatan preventif; dan (4) pendekatan perkembangan.
1. Pendekatan Krisis
Pendekatan krisi disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisi atau masalah. Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisi atau maslah=-maslah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing menunggu individu yang dating. Selanjutnya, mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan individu.
2. Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuan bimbingan ini adala untuk memantu memperbaiki kekurangan/ kelemahan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan-kelemahan individu dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
3. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada antisipasi maslah-masalah umum individu, mencegah jangan sampai masalah tersebut menimpa indivd\idu. Pembimbing memberikan bebrapa upaya, seperti informasi dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
4. Pendekatan perkembangan.
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Dalam pendekatan ini, layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui layanan pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, serta penyaluran bakat dan minat.
D. Ragam Teknik Bimbingan
Ada beberapa macam teknik bimbingan yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan individu, yaitu konseling, nasihat, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mengajar bernuasnsa bimbingan.
1. Konseling
Konseling m erupakan bantuan yang bersifat terapeutik yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku individu. Konseling dilaksanakan melalui wawncara (konseling) langsung dengan individu. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, bukan yang mengalami kesulitan kejiwaan, melainkan hanya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam pendidikan, pekerjaan, dan k ehidupan sosial.
Dalam konseling berisi proses belajar yang ditujukan agar konseli (individu) dapat mengenal diri, menerima, mengarahkan, dan menyesuaikan diri secara realistis dalam kehidupannya di kampus ataupun luar kampus. Dalam konseling tercipta hubungan pribadi yang unik dan khas dengan hubungan tersebut individu diarahkan agar dapat membuat keputusan, pemilihan, dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperan lebih baik di lingkungannya.
2. Nasihat
Nasihat merupakan salah satu teknik bimbingan yang dapat diberikan oleh konslor ataupun pembimbing. Pemberian nasihat hendaknya memerhatikan hal-hal sebagi berikut.
a. Berdasarkan masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh klien (individu),
b. Diawali dengan menghimun data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi,
c. Nasihat yang diberikan bersifat alternative yang dapat dipilih oleh individu, disertai kemungkinan keberhasilan dan kegagalan.
d. Hendaknya, individu mau dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya.
3. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas maslaah-maslah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.
Bimbingan kelompok dilaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kecil (2 – 6 orang), kelompok sedang (7 – 12 orang), dan kelompok besar (13 – 20 orang) atau kelas (20-40 orang). Pemberian informasi dalam bimbingan kelompok terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang kenyataan, aturan-aturan dalam kehidupan, dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan tugas, serta meraih masa depan dalam studi, karier, ataupun kehidupan. Aktivitas kelompok diarahkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman lingkungan, penyesuaian diri, serta pengembangan diri.
4. Konseling kelompok
Konseling kelopok merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian k emudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti, bahwa individu yang bersangkutan mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secar wajar dalam masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelehaman dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat member k emudahan bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti member kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap dan perilakunya selaras dengan lingkungannya.
Individu dalam konseling kelompok pada dasarnya adalah individu normal yang memiliki berbagai kepedulian dan kemampuan, serta persoalan yang dihadapi bukanlah gangguan kejiwaan yang tergolong sakit, hanya kekeliruan dalam penyesuaian diri.
5. Mengajar bernuansa bimbingan
Bimbingan waktu mengajar yang dapat dilakukan oleh dosen berupa menjelaskan tujuan dan manfaat perkuliahan, cara belajar, mata kuliah yang diberikan, dorongan untuk berprestasi, membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu, penyelesaian tugas, merencanakan asa depan, memberikan fasilitas belajar, member kesempatan untuk berprestasi, dan lain-lain.
Secara umum, bimbingan yang dapat diberikan guru/dosen sambil mengajar adalah (1) mengenal dan memahami individu secara mendalam; (2) memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual; (3) memperlakukan individu secara manusiawi; (4) member kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal; dan (5) menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan prinsip-prinsip/bernuansa bimbingan tampak sebgai berikut.
a. Tercipta iklim kelas yang permisif, bebas dari keegagan dan menemakan individu sebagai subjek pengajaran.
b. Adanya arahan/orientasi agar terselenggaranya bealjar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhan perkuliahan.
c. Menerima dan memperlakukan individu sebagi individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya.
d. Mempersiapkan serta menyelenggarakan perkuliahan sesuai denga kebutuhan dan kemampuan individu.
e. Membina hubungan yang dekat dengan individu, menerima individu yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan.
E.
Dari maslaah individu ada empat jenis bimbingan, yaitu : bimbingan akademik, bimbingan sosial pribadi, bimbingan karier, dan bimbingan keluarga
1. Bimbingan Akademik
Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapidan menyelesaikan masalh-masalah akademik yang termasuk masalah-masalh akademik, yaitu pengenalan kurikulum, emilihan jurusan/cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan lanjutan dan lain-lain.
Bimbingan dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar-mengajar yang kondusif agar tehindar dari kesulitan belajar.
2. Bimbingan sosial pribadi
Bimbingan social pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah social pribadi yang termasuk maslah-aslah social pribadi adalah maslaah ubungan dengan sesame teman, dosen, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, serta penyelesaian konflik.
Bimbingan diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-keterampilan social pribadi.
3. Bimbingan karier
Bimbingan karier yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan pengembangan dan penyelesaian masalah-masalah karier, seprti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan dan penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi.
Bimbingan karier juga merupakan layanan pemenuhan kebutuhan perkembangan individu sebagai bagian integral dari program pendidikan. Bimbingan karier membantu individu mempersiapkan pekerjaan/jabatan, membantu individu pada saat bekerja, dan membantu individu setelah pensiun dari pekerjaan. Dengan layanan bimbingan karier, individu mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya sehingga mampu mewujudkan dirinya secara bermakna.
4. Bimbingan keluarga
Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara prduktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, sertaberperan/berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Bimbingan keluarga juga membantu individu yang akan berkeluarga memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sehingga individu siap menghadapi kehidupan berkeluarga.
B. Ragam Layanan Bimbingan
Dalam bimbingan dan konseling dibedakan empat jenis layanan utama, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan system.
1. Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu para individu mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan.
Contoh isi layanan dasar bimbingan untuk orang dewasa, yaitu :
a. Memiliki tanggungjawab social dan kewarganegaraan secara lebih dewasa
b. Membantu anak-anak dan pemuda khususnya anak kandungnya sendiri agar berkembang menjadi orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab
c. Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya bersama orang dewasa lain
2. Layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh individu saat ini. Isi layanan responsive adalah :
a. Bidang pendidikan, mengatasi masalah kesulitan dalam memilih pendidikan, jurusan, program studi yang cocok dengan minat, bakat dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
b. Bidang belajar, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam belajar, mengatur cara belajar, memprioritaskan pelajaran, serta strategi dan teknik belajar.
c. Dalam bidang social, terkait dengan mengatasi masalah kesulitan dalam hubungan social, kesulitan menyesuaikan dengan lingkungan keluarga, tetangga, teman, sekolah dan masyarakat.
d. Dalam bidang pribadi, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam mengatasi konflik internal pribadi, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan k esulitan dalam mengendalikan diri serta mengarahkan diri.
e. Dalam bidang karier, terkait dengan mengatasi maslah kesulitan dalam memilih pekerjaan yang cocok dengan minat, keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya.
3. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan social p ribadinya.
Isi layana perenecanaan individual adalah :
a. Bidang pendidikan dengan topik-topik belajar yang efektif, belajar memantapkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat dan karakteristik kepribadian lainnya.
b. Bidang karier dengan topik-topik mengidentifikasi kesempatan karier yang ada dilingkungan masyarakat, mengembangkan sikap positif terhadp dunia kerja dan merencanakan kedhiupan kariernya.
c. Bidang sosial-pribadi dengan topik mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman dan belajar memahami perasaan orang lain.
4. Dukungan system
Adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional; hubungan masyarakat dan staf; konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, dari masyarakat yang leih luas; manajemen program; serta penelitian dan pengembangan.
a. Layanan Pengumpulan data
Dalam layanan in, semua data tentang individu beserta latar belakangnya dibimpun dan didokumentasikan. Data dihimpun dari berbagai sumber dengan menggunakan angket. Wawancara, observasi, studi documenter, dan tes
Data yang dihimpun di antaranya data pribadi, keluarga, sosial, budaya, agama, status ekonomi, prestasi, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, ketahanmalangan, ketekunan, kerjainan, dan sebagainya.
b. Layanan Informasi
Layanan informasi merupakan layanan member informasi yang dibutuhkan oleh individu. Tujuan layanan ini adalah agar individu memiliki pengetahuan (informasi) yang memadai, baik tentang dirinya maupun tentang lingkungannya, lingkungan perguruan tinggi, masyarakat, serta sumber-sumber belajar termasuk internet. Informasi yang diperoleh individu sangat diperlukan agar individu lebih mudah dalam membuat perencanaan dan mengambil keputusan.
c. Layanan Penempatan
Layanan p enempatan merupakan layanan untuk mebantu individu dala meperoleh tempat bagi pengembangan potensi yang dimilikinya. Tujuan layanan ini adalah agar setiap individu dapat megnembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Setia individu diharapkan menempati kelompok, jurusan, program studi, serta saluran kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan segala kemampuan pribadinya.
d. Layanan Konseling
Layanan konseling merupakan layanan untuk membantu individu menyelesaikan masalah-maslah, terutama maslah sosial-pribadi yang mereka hadapi. Layanan konseling ini dilakukan melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli. Konselor memfasilitasi lingkungan psikologis konseli sehingga konseli dapat mengembangkan potensinya sebaik mungkin dan mampu mengatasi maslah yang dihadapinya sebaik mungkin.
e. Layanan Referal
Layanan referral merupakan layanan untuk melimpahkan maslah yang dihadapi individu kepada pihak lain yang lebih m ampu dan berwenang apabila maslah yang ditangani pembimbing di luar kemampuan dan kewenangan personal pemberi bantuan yang ada.
f. Layanan Evaluasi dan TIndak Lanjut
Untuk menilai pelaksanaan dan keberhasilan layanan bimbingan yang diberikan, diadkan evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut diadakan upaya-upaya tindak lanjut untuk menyempurnakannya.
Layanan evaluasi ini menyangkut evaluasi proses ataupun evaluasi hasil pelaksanaan bimbingan. Evaluasi proses menilai sejauh mana keterlaksanaan program bimbingan dan konseling itu didukung atau tidak oleh komponen-komponen yang terkait dengan sumber pelaksana, biaya, fasilitas, dan manajemen.
C. Ragam Pendekatan Bimbingan
Dilihat dari pendekatannya, bimbingan dibedakan atas empat pendekatan yaitu; (1) Pendekatan krisis; (2) Pendekatan remedial; (3) pendekatan preventif; dan (4) pendekatan perkembangan.
1. Pendekatan Krisis
Pendekatan krisi disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisi atau masalah. Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisi atau maslah=-maslah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing menunggu individu yang dating. Selanjutnya, mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan individu.
2. Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuan bimbingan ini adala untuk memantu memperbaiki kekurangan/ kelemahan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan-kelemahan individu dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
3. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada antisipasi maslah-masalah umum individu, mencegah jangan sampai masalah tersebut menimpa indivd\idu. Pembimbing memberikan bebrapa upaya, seperti informasi dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
4. Pendekatan perkembangan.
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Dalam pendekatan ini, layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui layanan pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, serta penyaluran bakat dan minat.
D. Ragam Teknik Bimbingan
Ada beberapa macam teknik bimbingan yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan individu, yaitu konseling, nasihat, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mengajar bernuasnsa bimbingan.
1. Konseling
Konseling m erupakan bantuan yang bersifat terapeutik yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku individu. Konseling dilaksanakan melalui wawncara (konseling) langsung dengan individu. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, bukan yang mengalami kesulitan kejiwaan, melainkan hanya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam pendidikan, pekerjaan, dan k ehidupan sosial.
Dalam konseling berisi proses belajar yang ditujukan agar konseli (individu) dapat mengenal diri, menerima, mengarahkan, dan menyesuaikan diri secara realistis dalam kehidupannya di kampus ataupun luar kampus. Dalam konseling tercipta hubungan pribadi yang unik dan khas dengan hubungan tersebut individu diarahkan agar dapat membuat keputusan, pemilihan, dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperan lebih baik di lingkungannya.
2. Nasihat
Nasihat merupakan salah satu teknik bimbingan yang dapat diberikan oleh konslor ataupun pembimbing. Pemberian nasihat hendaknya memerhatikan hal-hal sebagi berikut.
a. Berdasarkan masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh klien (individu),
b. Diawali dengan menghimun data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi,
c. Nasihat yang diberikan bersifat alternative yang dapat dipilih oleh individu, disertai kemungkinan keberhasilan dan kegagalan.
d. Hendaknya, individu mau dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya.
3. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas maslaah-maslah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.
Bimbingan kelompok dilaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kecil (2 – 6 orang), kelompok sedang (7 – 12 orang), dan kelompok besar (13 – 20 orang) atau kelas (20-40 orang). Pemberian informasi dalam bimbingan kelompok terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang kenyataan, aturan-aturan dalam kehidupan, dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan tugas, serta meraih masa depan dalam studi, karier, ataupun kehidupan. Aktivitas kelompok diarahkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman lingkungan, penyesuaian diri, serta pengembangan diri.
4. Konseling kelompok
Konseling kelopok merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian k emudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti, bahwa individu yang bersangkutan mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secar wajar dalam masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelehaman dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat member k emudahan bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti member kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap dan perilakunya selaras dengan lingkungannya.
Individu dalam konseling kelompok pada dasarnya adalah individu normal yang memiliki berbagai kepedulian dan kemampuan, serta persoalan yang dihadapi bukanlah gangguan kejiwaan yang tergolong sakit, hanya kekeliruan dalam penyesuaian diri.
5. Mengajar bernuansa bimbingan
Bimbingan waktu mengajar yang dapat dilakukan oleh dosen berupa menjelaskan tujuan dan manfaat perkuliahan, cara belajar, mata kuliah yang diberikan, dorongan untuk berprestasi, membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu, penyelesaian tugas, merencanakan asa depan, memberikan fasilitas belajar, member kesempatan untuk berprestasi, dan lain-lain.
Secara umum, bimbingan yang dapat diberikan guru/dosen sambil mengajar adalah (1) mengenal dan memahami individu secara mendalam; (2) memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual; (3) memperlakukan individu secara manusiawi; (4) member kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal; dan (5) menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan prinsip-prinsip/bernuansa bimbingan tampak sebgai berikut.
a. Tercipta iklim kelas yang permisif, bebas dari keegagan dan menemakan individu sebagai subjek pengajaran.
b. Adanya arahan/orientasi agar terselenggaranya bealjar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhan perkuliahan.
c. Menerima dan memperlakukan individu sebagi individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya.
d. Mempersiapkan serta menyelenggarakan perkuliahan sesuai denga kebutuhan dan kemampuan individu.
e. Membina hubungan yang dekat dengan individu, menerima individu yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan.
E.
Jumat, 04 November 2011
Konsenp Dasar Mutu Serta Sistem Manajement Layanan dan Bimbingan
A. Mutu Layanan Bimbingan dan Konseling
William J . Kolarik (1995) mengemumakan mutu layanan bimbingan dan konsterling adalah memenuhi apa yang diharapkan oleh klien atau konseli.Goetsch dan Davis (1994) mutu layanan bimbingan dan konstrling itu merujuk pada proses layanan dan konstreling yang mampu memenuhi harapan siswa, masyarakat, dan pemerintah.
1. Mutu Proses Layanan Bimbingan dan Konseling
Proses layanan bimbingan dan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu mengintegrasikan, mendistribusikan, mengelolah, dan mendayagunakan program, personel, fasilitas, serta pembiayaan bimbingan dan konseling secara optimal agar dapat mengembangkan seluruh potensi siswa.
Fakto – faktor yang mempengaruhi mutu proses layanan bimbingan konseling:
a. Mutu program layanan bimbingan dan konseling
Layanan bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, tidak mungkin akan mencapai sasaranya apabila tidak memiliki program yang tertentu, dalam arti tersusun secara jelas, sistematis, dan terarah.
Program bimbingan yang baik, yaitu program yang apabila dilaksanakan efisien dan efektif. Program tersebut memiliki ciri sebagai berikut :
1) Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebudayaan nyata dari para siswa sekolah yang bersangkutan.
2) Kegiatan bimbingan diatur menurut skala prioretas yang juga ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
3) Program itu dikembangkan berangsur -angsur dengan.
4) Program itu memiliki tujuan yang ideal.
5) Program itu mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan
6) Menyediakan fasilitas yang diperlukan.
7) Penyusunan disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan sekolah.
8) Memperlihatkan peran yang penting dalam menghubungkan dan memadukan sekolah dan masyarakat.
b. Mutu konselor
Tahun 1944, Graves telah memberikan petunjuk, bahwa seorang konselor yang bermutu hendaknya memiliki integritas dan vitalitas, gesit dan trampil, memiliki kemampuan menilai dan memperkirakan masalah secara tajam, terlatih, dan berpengalaman luas.
Munro, Manthei, dan Small (1979) menyatakan ciri kepribadian konselor yang bermutu, yaitu memiliki sifat luwes, hangat, dapat menerima orang lain, terbuka, dapat merasakan penderitaan orang lain, mengenal diri sendiri, tidak berpura- pura, menghargai orang lain, tidak mau menang sendiri, dan objektif.
Persyaratan formal yang harus dimiliki oleh konselor :
1) Pendidikan
Secara profesianal, seorang konselor disebuah sekolah, hendaknya telah mencapai tingkat pendidikan sarjana bimbingan. Dalam masa pendidikan pada institusi yang bersangkutan, seorang konselor harus menempuh mata kuliah tentang prinsip dan praktek bimbingan. Adapun bidang yang harus dikuasai antara lain proses konseling, pemahaman individu, informasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, jabatan, administrasi program bimbingan, prosedur penelitian dan penilaian bimbingan. Selain bidang tersebut, perlu juga dikuasai dengan yang lainnya meliputi bidang psikologi, ekonomi, sosial, budaya, dan agama.
2) Pengalaman
Seorang konseler profesional hendaknya telah memiliki pengalaman mengajar atau melaksanakan praktek konseling selama dua tahun, ditambah satu tahun pengalaman bekerja diluar bidang persekolahan, tiga bulan sampai enam bulan praktek konseling yang diawasi oleh tim pembimbing, dan pengalaman yang ada kaitannya dengan kegiatan sosial (Milton Blum dan Benjamin Balinski, 1961).
3) Kecocokan pribadi
Sifat -sifat pribadi yang harus dimiliki oeh seorang konselor yang bermutu dengan persyaratan formal :
i. Bakat skolatik sehingga mereka akan mendapat studi diperguruan tinggi dengan hasil yang memuaskan.
ii. Minat yang men dalam untuk kerja sama dengan orang lain.
iii. Minat yang mendalam terhadap kegiatan -kegiatan yang dilakukannya.
iv. Faktor -faktor kepribadian yang diperlihatkan oleh kematangan emosi, kesabaran, keramahan, keseimbangan batin, tidak lekas menarik diri dari situasi yang rawan, serta cepat tanggap terhadap kritik.
c. Fasilitas dan pembiayaan yang memadai
Aspek pembiayaan merupakan perhatian yang lebih serius karena dalam kenyataannya aspek tersebut merupakan salah satu faktor penghambat proses pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Tanpa adanya pembiayaan yang memadai maka proses pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling cenderung mengalami hambatan dan sulit diharapkan tercapainya keberhasilan program layanan bimbingan.
Adapun fasilitas yang diharapkan tersedia disekolah ialah ruang tempat bimbingan dan konseling yang bermutu.
2. Mutu Produk Layanan Bimbingan dan Konseling
• Harapan siswa
Gerald A.Gladstein (dalam Shertzer dan Stone, 1988) bahwa layanan bimbingan konseling yang bermutu membantu siswa, tidakm sebatas mengatasi masalah- masalah pendidikan dan pekerjaan mampu membantu mengatasi masalah -masalah pada siswa.
• Harapan orang tua
Janet Worthington (1972) bahwa layanan bimbingan dan konseling yang bermutu mampu membantu orang tua membimbing belajar.
• Harapan guru bidang studi
Robert F. Gibson (1965) bahwa layanan bimbingan konseling yang bermutu mampu membantu guru mengurangi perilaku siswa yang menjadi penyebab keributan atau gangguan di kelas, sera membantu proses belajar lebih mudah dan efektif.
• Harapan kepala sekolah
Darrel H. Hart dan Donald J. Prince (1970) bahea layanan bimbingab konseling yang bermutu membatu menyelesaikan masalah organisasi sekolah, mengurangi konflik, melancarkan keberhasilan belajar siswa, membantu menyelesaikan masalah pendidikan.
• Harapan pemerintah
Shertzer dan Stone (1988) bahwa layanan bimbingan konseling yang bermutu mampu membantu pemerintah dalam mengidentifikasi orang-orang yang berbakat, dan membantu mengarahkan individu pada pekerjaan yang penting.
Adapun dukungan pemerintah indonesia dalam menanggapi bimbingan dan konseling yang bermutu mampu membantu siswa mengenal bakat, minat, dan kemampuan, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merencanankan karier.
Dengan memperhatikan harapan-harapan dari berbagai pihak terhadap layanan bimbingan dan konseling, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua , dan pemerintah, yaitu mampu mengembangkan seluruh potensi siswa meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan karier.
Dari harapan-harapan berbagai pihak terhadap layanan bimbingan dan konsterling, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah, yaitu mampu mengembangkan seluruh potensi siswa meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan karier.
Adapun tugas-tugas perkembangan siswa SMU yang sedang berada pada fase remaja dikemumakan oleh HJ. Havighurst (1957) :
1) Mencapai hebungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya.
2) Mencapai peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan.
3) Mencapai kebebasan emosianal dari orang tua orang dewasa.
4) Memilih dan mempersiapkan untuk suatu pekerjaan.
5) Mengembangkan ketrampilan intelektual dan konsep yang diperlukan sebagai anggota masyarakat yang kompetem.
B. Sistem Manajeman Layanan Bimbingan dan Konseling
berikut ini diuraikan asapek-aspek manajemen program layanan bimbingan dan konseling :
1. Perencanaan serta Pengorganisasian Program Layanan Bimbingan dan Konseling
Manfaat dilakukannya perencanaan program secara matang;
a) Adanya kejelasan arah pelaksanan program bimbingan
b) Adanya kemudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan bimbingan yang dilakukan
c) Terlaksanannya program kegiatan bimbingan secara lancar, efisien, dan efektif
Dalam hubungannya dengan perencanan program layanan bimbingan dan konseling di SMU, ada beberapa aspek kegiatan penting yang perlu dilakukan, yaitu:
a) Analisis kebutuhan dan permasalahan siswa
b) Penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai
c) Analisis situasi dan kondisi di sekolah
d) Penentuan jenis-jenis kegiatan yang dilakukan
Dibawah ini dijelaskan tugas personel sekolah yang berkaitan dengan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah :
a. Kepala sekolah
• Mengoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan yangmeliputi kegiatan pengajaran, penelitian, dan bimbingan di sekolah
• Menyediakan serta melengkapi sarana dan prasana
• Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling
• Membuat surat tugas guru pembimbing dalam proses bimbingan dan konseling
b. Wakil kepala sekolah
• Mengoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada semua personel sekolah
• Melaksanan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam melaksanakanlaynan bimbingan dan konsteling
c. Koordinator guru pembimbing (konselor)
• Mengoordinasikan para guru pembimbing
• Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana, serta prasarana.
• Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan kepada kepala sekolah
d. Guru pembimbing (konselor)
• Memasyaratkan kegiatan bimbingan
• Merencanakan program bimbingan
• Menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan
• Menganalisis hasil penilaian
• Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis
e. Staf administrasi
• Membantu guru pembimbing dan koordinator dalam mengadministrasi seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah
• Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling
• Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling
f. Guru mata pelajaran
• Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan kepada siswa
• Melakukan kerjasama dengan guru pembimbing dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan
• Ikut serta dalam program layanan bimbingan
g. Wali kelas
• Membantu guru pembinbing melaksanakan layanan yang menjadi tanggungjawad
• Membantu memberi kesempatan dan kemudahan bagi siswa
• Memberi informasi tentang siswa dikelasnya untuk memperoleh layanan bimbingan dari guru pembimbing
• Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu mendapat perhatian khusus
2. Pengarahan Kegiatan Bimbingan dan konseling
Hatch dan stefflre (1961) mengemumakan pengarahan sebagai suatu fase administratif yang mencakup koordinasi, kontrol, dan stimulasi terhadap yang lain. Dan satu pihak, hal itu adakalanya dipikiran sebagai suatu proses dan merupakan suatu fase pemberian komando. Pada sisi lain, pendapat ini merupakan wewenang dalam bertindak atau stimulasi dalam bertindak tanpa komando.
Pentingnya pengarahan dalam program bimbingan :
1) Untuk menciptakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada
2) Untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya
3) Memungkinkan kelancaran serta efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan
3. Supervisi Kegiatan Bimbingan
Menurut Arthur Jones (1970) supervisi itu mencakup dua bentuk yaitu, (a) sebagai kontrol kualitas yang direncanakan untuk memelihara, menyelengarakan, dan menentang perubahan ; (b) mengadakan perubahan , penataran, dan mengadakan perubahan perilaku.
Crow dan Crow (1962) berpendapat, bahwa dalam kegiatan supervisi bimbingan, hendaknya supervisor menerima saran-saran dari para konselor dalam hubungannya dengan permasalahan-permasalahan perubahan dan pengembangan kurikulum, penyesuaian kurikulum bagi siswa memasukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi para siswake dalam program sekolah.
Adapun manfaat supervisi dalam program bimbingan :
1) Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personel bimbingan, yaitu bagaiman pelaksanan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing
2) Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personel bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing
3) Memungkinkan dicarikannya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan dan permasalahan-permasalahan yang ditemui
4) Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan
4. Penilaian Program Layanan Bimbingan
Penilaian program bimbingan merupakan suatu usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanan progran itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bahwa keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat melalui kegiatan penilaian.
Penilaian kegiatan disekolah adalah untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanan program bimbingandi sekolah dengan mengace pada kriteria tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.
Kriteria yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program layanan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuihi atau tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu peserta didik dalam memperoleh perubahan perilaku dan pribadi kearah yang lebih baik.
Ada dua macam kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu :
Penilaian proses, adalah untuk mengetahui sejauh mana keefektivan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya.
Penilaian hasil adalah memperoleh informasi keevektifan layanan bimbingandilihat dari hasilnya.
Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil :
1) Kesesuaian antara program dengan pelaksanan
2) Keterlaksanan program
3) Hambatan-hambatan yang dijumpai
4) Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar
5) Respons siswa, personel sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadap layanan bimbingan
William J . Kolarik (1995) mengemumakan mutu layanan bimbingan dan konsterling adalah memenuhi apa yang diharapkan oleh klien atau konseli.Goetsch dan Davis (1994) mutu layanan bimbingan dan konstrling itu merujuk pada proses layanan dan konstreling yang mampu memenuhi harapan siswa, masyarakat, dan pemerintah.
1. Mutu Proses Layanan Bimbingan dan Konseling
Proses layanan bimbingan dan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu mengintegrasikan, mendistribusikan, mengelolah, dan mendayagunakan program, personel, fasilitas, serta pembiayaan bimbingan dan konseling secara optimal agar dapat mengembangkan seluruh potensi siswa.
Fakto – faktor yang mempengaruhi mutu proses layanan bimbingan konseling:
a. Mutu program layanan bimbingan dan konseling
Layanan bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, tidak mungkin akan mencapai sasaranya apabila tidak memiliki program yang tertentu, dalam arti tersusun secara jelas, sistematis, dan terarah.
Program bimbingan yang baik, yaitu program yang apabila dilaksanakan efisien dan efektif. Program tersebut memiliki ciri sebagai berikut :
1) Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebudayaan nyata dari para siswa sekolah yang bersangkutan.
2) Kegiatan bimbingan diatur menurut skala prioretas yang juga ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
3) Program itu dikembangkan berangsur -angsur dengan.
4) Program itu memiliki tujuan yang ideal.
5) Program itu mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan
6) Menyediakan fasilitas yang diperlukan.
7) Penyusunan disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan sekolah.
8) Memperlihatkan peran yang penting dalam menghubungkan dan memadukan sekolah dan masyarakat.
b. Mutu konselor
Tahun 1944, Graves telah memberikan petunjuk, bahwa seorang konselor yang bermutu hendaknya memiliki integritas dan vitalitas, gesit dan trampil, memiliki kemampuan menilai dan memperkirakan masalah secara tajam, terlatih, dan berpengalaman luas.
Munro, Manthei, dan Small (1979) menyatakan ciri kepribadian konselor yang bermutu, yaitu memiliki sifat luwes, hangat, dapat menerima orang lain, terbuka, dapat merasakan penderitaan orang lain, mengenal diri sendiri, tidak berpura- pura, menghargai orang lain, tidak mau menang sendiri, dan objektif.
Persyaratan formal yang harus dimiliki oleh konselor :
1) Pendidikan
Secara profesianal, seorang konselor disebuah sekolah, hendaknya telah mencapai tingkat pendidikan sarjana bimbingan. Dalam masa pendidikan pada institusi yang bersangkutan, seorang konselor harus menempuh mata kuliah tentang prinsip dan praktek bimbingan. Adapun bidang yang harus dikuasai antara lain proses konseling, pemahaman individu, informasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, jabatan, administrasi program bimbingan, prosedur penelitian dan penilaian bimbingan. Selain bidang tersebut, perlu juga dikuasai dengan yang lainnya meliputi bidang psikologi, ekonomi, sosial, budaya, dan agama.
2) Pengalaman
Seorang konseler profesional hendaknya telah memiliki pengalaman mengajar atau melaksanakan praktek konseling selama dua tahun, ditambah satu tahun pengalaman bekerja diluar bidang persekolahan, tiga bulan sampai enam bulan praktek konseling yang diawasi oleh tim pembimbing, dan pengalaman yang ada kaitannya dengan kegiatan sosial (Milton Blum dan Benjamin Balinski, 1961).
3) Kecocokan pribadi
Sifat -sifat pribadi yang harus dimiliki oeh seorang konselor yang bermutu dengan persyaratan formal :
i. Bakat skolatik sehingga mereka akan mendapat studi diperguruan tinggi dengan hasil yang memuaskan.
ii. Minat yang men dalam untuk kerja sama dengan orang lain.
iii. Minat yang mendalam terhadap kegiatan -kegiatan yang dilakukannya.
iv. Faktor -faktor kepribadian yang diperlihatkan oleh kematangan emosi, kesabaran, keramahan, keseimbangan batin, tidak lekas menarik diri dari situasi yang rawan, serta cepat tanggap terhadap kritik.
c. Fasilitas dan pembiayaan yang memadai
Aspek pembiayaan merupakan perhatian yang lebih serius karena dalam kenyataannya aspek tersebut merupakan salah satu faktor penghambat proses pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Tanpa adanya pembiayaan yang memadai maka proses pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling cenderung mengalami hambatan dan sulit diharapkan tercapainya keberhasilan program layanan bimbingan.
Adapun fasilitas yang diharapkan tersedia disekolah ialah ruang tempat bimbingan dan konseling yang bermutu.
2. Mutu Produk Layanan Bimbingan dan Konseling
• Harapan siswa
Gerald A.Gladstein (dalam Shertzer dan Stone, 1988) bahwa layanan bimbingan konseling yang bermutu membantu siswa, tidakm sebatas mengatasi masalah- masalah pendidikan dan pekerjaan mampu membantu mengatasi masalah -masalah pada siswa.
• Harapan orang tua
Janet Worthington (1972) bahwa layanan bimbingan dan konseling yang bermutu mampu membantu orang tua membimbing belajar.
• Harapan guru bidang studi
Robert F. Gibson (1965) bahwa layanan bimbingan konseling yang bermutu mampu membantu guru mengurangi perilaku siswa yang menjadi penyebab keributan atau gangguan di kelas, sera membantu proses belajar lebih mudah dan efektif.
• Harapan kepala sekolah
Darrel H. Hart dan Donald J. Prince (1970) bahea layanan bimbingab konseling yang bermutu membatu menyelesaikan masalah organisasi sekolah, mengurangi konflik, melancarkan keberhasilan belajar siswa, membantu menyelesaikan masalah pendidikan.
• Harapan pemerintah
Shertzer dan Stone (1988) bahwa layanan bimbingan konseling yang bermutu mampu membantu pemerintah dalam mengidentifikasi orang-orang yang berbakat, dan membantu mengarahkan individu pada pekerjaan yang penting.
Adapun dukungan pemerintah indonesia dalam menanggapi bimbingan dan konseling yang bermutu mampu membantu siswa mengenal bakat, minat, dan kemampuan, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merencanankan karier.
Dengan memperhatikan harapan-harapan dari berbagai pihak terhadap layanan bimbingan dan konseling, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua , dan pemerintah, yaitu mampu mengembangkan seluruh potensi siswa meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan karier.
Dari harapan-harapan berbagai pihak terhadap layanan bimbingan dan konsterling, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah, yaitu mampu mengembangkan seluruh potensi siswa meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan karier.
Adapun tugas-tugas perkembangan siswa SMU yang sedang berada pada fase remaja dikemumakan oleh HJ. Havighurst (1957) :
1) Mencapai hebungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya.
2) Mencapai peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan.
3) Mencapai kebebasan emosianal dari orang tua orang dewasa.
4) Memilih dan mempersiapkan untuk suatu pekerjaan.
5) Mengembangkan ketrampilan intelektual dan konsep yang diperlukan sebagai anggota masyarakat yang kompetem.
B. Sistem Manajeman Layanan Bimbingan dan Konseling
berikut ini diuraikan asapek-aspek manajemen program layanan bimbingan dan konseling :
1. Perencanaan serta Pengorganisasian Program Layanan Bimbingan dan Konseling
Manfaat dilakukannya perencanaan program secara matang;
a) Adanya kejelasan arah pelaksanan program bimbingan
b) Adanya kemudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan bimbingan yang dilakukan
c) Terlaksanannya program kegiatan bimbingan secara lancar, efisien, dan efektif
Dalam hubungannya dengan perencanan program layanan bimbingan dan konseling di SMU, ada beberapa aspek kegiatan penting yang perlu dilakukan, yaitu:
a) Analisis kebutuhan dan permasalahan siswa
b) Penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai
c) Analisis situasi dan kondisi di sekolah
d) Penentuan jenis-jenis kegiatan yang dilakukan
Dibawah ini dijelaskan tugas personel sekolah yang berkaitan dengan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah :
a. Kepala sekolah
• Mengoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan yangmeliputi kegiatan pengajaran, penelitian, dan bimbingan di sekolah
• Menyediakan serta melengkapi sarana dan prasana
• Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling
• Membuat surat tugas guru pembimbing dalam proses bimbingan dan konseling
b. Wakil kepala sekolah
• Mengoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada semua personel sekolah
• Melaksanan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam melaksanakanlaynan bimbingan dan konsteling
c. Koordinator guru pembimbing (konselor)
• Mengoordinasikan para guru pembimbing
• Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana, serta prasarana.
• Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan kepada kepala sekolah
d. Guru pembimbing (konselor)
• Memasyaratkan kegiatan bimbingan
• Merencanakan program bimbingan
• Menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan
• Menganalisis hasil penilaian
• Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis
e. Staf administrasi
• Membantu guru pembimbing dan koordinator dalam mengadministrasi seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah
• Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling
• Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling
f. Guru mata pelajaran
• Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan kepada siswa
• Melakukan kerjasama dengan guru pembimbing dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan
• Ikut serta dalam program layanan bimbingan
g. Wali kelas
• Membantu guru pembinbing melaksanakan layanan yang menjadi tanggungjawad
• Membantu memberi kesempatan dan kemudahan bagi siswa
• Memberi informasi tentang siswa dikelasnya untuk memperoleh layanan bimbingan dari guru pembimbing
• Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu mendapat perhatian khusus
2. Pengarahan Kegiatan Bimbingan dan konseling
Hatch dan stefflre (1961) mengemumakan pengarahan sebagai suatu fase administratif yang mencakup koordinasi, kontrol, dan stimulasi terhadap yang lain. Dan satu pihak, hal itu adakalanya dipikiran sebagai suatu proses dan merupakan suatu fase pemberian komando. Pada sisi lain, pendapat ini merupakan wewenang dalam bertindak atau stimulasi dalam bertindak tanpa komando.
Pentingnya pengarahan dalam program bimbingan :
1) Untuk menciptakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada
2) Untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya
3) Memungkinkan kelancaran serta efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan
3. Supervisi Kegiatan Bimbingan
Menurut Arthur Jones (1970) supervisi itu mencakup dua bentuk yaitu, (a) sebagai kontrol kualitas yang direncanakan untuk memelihara, menyelengarakan, dan menentang perubahan ; (b) mengadakan perubahan , penataran, dan mengadakan perubahan perilaku.
Crow dan Crow (1962) berpendapat, bahwa dalam kegiatan supervisi bimbingan, hendaknya supervisor menerima saran-saran dari para konselor dalam hubungannya dengan permasalahan-permasalahan perubahan dan pengembangan kurikulum, penyesuaian kurikulum bagi siswa memasukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi para siswake dalam program sekolah.
Adapun manfaat supervisi dalam program bimbingan :
1) Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personel bimbingan, yaitu bagaiman pelaksanan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing
2) Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personel bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing
3) Memungkinkan dicarikannya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan dan permasalahan-permasalahan yang ditemui
4) Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan
4. Penilaian Program Layanan Bimbingan
Penilaian program bimbingan merupakan suatu usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanan progran itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bahwa keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat melalui kegiatan penilaian.
Penilaian kegiatan disekolah adalah untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanan program bimbingandi sekolah dengan mengace pada kriteria tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.
Kriteria yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program layanan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuihi atau tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu peserta didik dalam memperoleh perubahan perilaku dan pribadi kearah yang lebih baik.
Ada dua macam kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu :
Penilaian proses, adalah untuk mengetahui sejauh mana keefektivan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya.
Penilaian hasil adalah memperoleh informasi keevektifan layanan bimbingandilihat dari hasilnya.
Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil :
1) Kesesuaian antara program dengan pelaksanan
2) Keterlaksanan program
3) Hambatan-hambatan yang dijumpai
4) Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar
5) Respons siswa, personel sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadap layanan bimbingan
Konsep Bimbingan dan Konseling
A. Konsep Bimbingan
1. Pengertian Bimbingan
Pada dasarnya, bimbingan merupakan upaya pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu.
Menurut Muro dan Kottman, Model bimbingan yang berkembang saat ini adalah bimbingan perkembangan. Visi bimbingan perkembangan bersifat edukatif, pengembangan, dan outreach.
Edukatif karena titik berat layanan bimbingan perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan, bukan korektif atau teraputik, walaupun layanan tersebut juga tidak diabaikan.
Pengembangan karena titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah pengembangan optimal seluruh aspek kepribadian individu dengan strategi/upaya pokoknya memberikan kemudahan perkembangan melalui perekayasaan lingkungan perkembangan.
Outreach karena target populasi layanan bimbingan perkembangan tidak terbatas pada individu bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan(masalah, target intervensi, setting,metode dan lama waktu).
2. Tujuan Bimbingan
Tujuan pemberian layanan bimbingan adalah agar individu dapat :
a) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya pada masa yang akan datang
b) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin
c) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, masyarakat dan kerja
d) Mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapat kesempatan untuk :
a. Mengenal dan memahami potensi, kekuatan serta tugas-tugasnya
b. Mengenal potensi-potensi yang ada di lingkungannya
c. Mengenal dn menentukan tujuan, rencana hidup serta rencana pencapaian tujuan tersebut
d. Mengatasi kesulitan sendiri
e. Menggunakan kemampuan untuk kepentingan dirinya, lembaga dan masyarakat
f. Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan kerja
g. Mengembangkan segala potensi yang dimiliki secara tepat, teratur dan optimal
3. Fungsi Bimbingan
Ada 4 fungsi bimbingan, yaitu :
1) Fungsi pengembangan merupakan fungsi bimbingan dalam pengembangan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki
2) Fungsi penyaluran merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu dalam memilih dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan sesuai minat,bakat,keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya
3) Fungsi adaptasi yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, khususnya guru/dosen, widyaiswara dan wali kelas untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, mianat,kemampuan dan kebutuhan individu.
4) Fungsi penyesuaian yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu menemukan penyesuaian diri dan perkembangannya secara optimal
4. Prinsip-prinsip Bimbingan
Pelaksanaan bimbingan perlu memperhatikan beberapa prinsip, yaitu :
a) Bimbingan adalah suatu proses membantu individu agar dapat membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi
b) Bimbingan bertitik tolak(fokus) pada individu yang dibimbing
c) Bimbingan diarahkan pada indiviidu dan tiap individu memiliki karakteristik sendiri
d) Masalah yang tidak dapat diselesaikan tim pembimbing di lingkungan lembaga pendidikan hendaknya diserahkan kepada ahli atau lembaga yang berwenang
e) Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang akan dibimbing
f) Bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat
g) Program bimbingan di lingkungan lembaga pendidikan tertentu harus sesuai dengan program pendidikan pada lembaga yang bersangkutan
h) Pelaksanaan program bimbingan dikelola oleh orang yang memliki keahlian dalam bidang bimbingan, dapat bekerja sama dan menggunakan sumber-sumber relevan yang berada dalam ataupun diluar lembaga penyelengara pendidikan
i) Pelaksanaan program bimbingan dievaluasi untuk mengetahui hasil dan pelaksanaan program
B. Konsep Bimbingan
1. Pengertian Konseling
Menurut Shertzer dan Stone, Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasar nilai yang diyakini sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Pietrofesa dan kawan-kawannya menunjukan beberap ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut :
Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan oleh seorang konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaan itu
Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari keterampilan pengambilan keputusan, penyelesaian masalah serta tingkah laku atau sikap-sikap baru
Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan konselor.
ASCA(American School Counselor Assosiation) mengemukakan bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien.
Adanya perbedaan definisi konseling, ditimbulkan karena perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan perbedaan para ahli yang merumuskan tentang konseling dan teory yang dianutnya.
Ada yang mengklasifikasikan konseling berdasar fungsinya yaitu suportif, reedukatif dan rekonstrukti (moh. Jawad dahlan, 1986)
Konseling dibedakan berdasar metodenya yaitu metode direktif dan nondirektif
Sedangkan menurut Osipow, walsh dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasar penekanan masalah yang diselesaikan, yaitu : penyeseuaian pribadi, pendidikan dan karier. Dan masih banyak pengelompokkan konseling berdasar para ahli.
Uraian tersebut mengambarkan betapa sulit merumuskan definisi konseling yang komprehensif dan berlaku untuk setiap orang dari berbagai aliran. Berikut diuraikan beberapa generalisasi yang menggambarkan karakteristik utama kegiatan konseling :
a) Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu
b) Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal. Hubungan ini terjadi dalam bentuk wawancara secara tatap muka antara konselor dengan klien
c) Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan antara konselor dan kliennya.
2. Tujuan Konseling
Shertzer dan stone (1980:82-88) menyimpulkan bahwa yang menjadi tujuan konseling pada umumnya dan di sekolah pada khusunya adalah
a. Mengadakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan. Khusus di sekolah, Boy dan Pine (depdikbud, 1983:14) menyatakan bahwa tujuan konseling adalah membantu siswa menjadi lebih matang dan lebih mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif, membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan potensi dirinya
b. Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif
c. Penyelesaian masalah
d. Mencapai keefektifan pribadi
Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya sendiri.
1. Pengertian Bimbingan
Pada dasarnya, bimbingan merupakan upaya pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu.
Menurut Muro dan Kottman, Model bimbingan yang berkembang saat ini adalah bimbingan perkembangan. Visi bimbingan perkembangan bersifat edukatif, pengembangan, dan outreach.
Edukatif karena titik berat layanan bimbingan perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan, bukan korektif atau teraputik, walaupun layanan tersebut juga tidak diabaikan.
Pengembangan karena titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah pengembangan optimal seluruh aspek kepribadian individu dengan strategi/upaya pokoknya memberikan kemudahan perkembangan melalui perekayasaan lingkungan perkembangan.
Outreach karena target populasi layanan bimbingan perkembangan tidak terbatas pada individu bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan(masalah, target intervensi, setting,metode dan lama waktu).
2. Tujuan Bimbingan
Tujuan pemberian layanan bimbingan adalah agar individu dapat :
a) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya pada masa yang akan datang
b) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin
c) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, masyarakat dan kerja
d) Mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapat kesempatan untuk :
a. Mengenal dan memahami potensi, kekuatan serta tugas-tugasnya
b. Mengenal potensi-potensi yang ada di lingkungannya
c. Mengenal dn menentukan tujuan, rencana hidup serta rencana pencapaian tujuan tersebut
d. Mengatasi kesulitan sendiri
e. Menggunakan kemampuan untuk kepentingan dirinya, lembaga dan masyarakat
f. Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan kerja
g. Mengembangkan segala potensi yang dimiliki secara tepat, teratur dan optimal
3. Fungsi Bimbingan
Ada 4 fungsi bimbingan, yaitu :
1) Fungsi pengembangan merupakan fungsi bimbingan dalam pengembangan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki
2) Fungsi penyaluran merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu dalam memilih dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan sesuai minat,bakat,keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya
3) Fungsi adaptasi yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, khususnya guru/dosen, widyaiswara dan wali kelas untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, mianat,kemampuan dan kebutuhan individu.
4) Fungsi penyesuaian yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu menemukan penyesuaian diri dan perkembangannya secara optimal
4. Prinsip-prinsip Bimbingan
Pelaksanaan bimbingan perlu memperhatikan beberapa prinsip, yaitu :
a) Bimbingan adalah suatu proses membantu individu agar dapat membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi
b) Bimbingan bertitik tolak(fokus) pada individu yang dibimbing
c) Bimbingan diarahkan pada indiviidu dan tiap individu memiliki karakteristik sendiri
d) Masalah yang tidak dapat diselesaikan tim pembimbing di lingkungan lembaga pendidikan hendaknya diserahkan kepada ahli atau lembaga yang berwenang
e) Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang akan dibimbing
f) Bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat
g) Program bimbingan di lingkungan lembaga pendidikan tertentu harus sesuai dengan program pendidikan pada lembaga yang bersangkutan
h) Pelaksanaan program bimbingan dikelola oleh orang yang memliki keahlian dalam bidang bimbingan, dapat bekerja sama dan menggunakan sumber-sumber relevan yang berada dalam ataupun diluar lembaga penyelengara pendidikan
i) Pelaksanaan program bimbingan dievaluasi untuk mengetahui hasil dan pelaksanaan program
B. Konsep Bimbingan
1. Pengertian Konseling
Menurut Shertzer dan Stone, Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasar nilai yang diyakini sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Pietrofesa dan kawan-kawannya menunjukan beberap ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut :
Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan oleh seorang konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaan itu
Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari keterampilan pengambilan keputusan, penyelesaian masalah serta tingkah laku atau sikap-sikap baru
Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan konselor.
ASCA(American School Counselor Assosiation) mengemukakan bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien.
Adanya perbedaan definisi konseling, ditimbulkan karena perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan perbedaan para ahli yang merumuskan tentang konseling dan teory yang dianutnya.
Ada yang mengklasifikasikan konseling berdasar fungsinya yaitu suportif, reedukatif dan rekonstrukti (moh. Jawad dahlan, 1986)
Konseling dibedakan berdasar metodenya yaitu metode direktif dan nondirektif
Sedangkan menurut Osipow, walsh dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasar penekanan masalah yang diselesaikan, yaitu : penyeseuaian pribadi, pendidikan dan karier. Dan masih banyak pengelompokkan konseling berdasar para ahli.
Uraian tersebut mengambarkan betapa sulit merumuskan definisi konseling yang komprehensif dan berlaku untuk setiap orang dari berbagai aliran. Berikut diuraikan beberapa generalisasi yang menggambarkan karakteristik utama kegiatan konseling :
a) Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu
b) Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal. Hubungan ini terjadi dalam bentuk wawancara secara tatap muka antara konselor dengan klien
c) Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan antara konselor dan kliennya.
2. Tujuan Konseling
Shertzer dan stone (1980:82-88) menyimpulkan bahwa yang menjadi tujuan konseling pada umumnya dan di sekolah pada khusunya adalah
a. Mengadakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan. Khusus di sekolah, Boy dan Pine (depdikbud, 1983:14) menyatakan bahwa tujuan konseling adalah membantu siswa menjadi lebih matang dan lebih mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif, membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan potensi dirinya
b. Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif
c. Penyelesaian masalah
d. Mencapai keefektifan pribadi
Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)